Editor 19 Desember 2020

“Mungkin ketekunan dalam melestarikan budaya ini, saya selalu mewakili Kota Makassar menjadi duta dongeng remaja pada pentas nasional dan internasional.

“Beberapa tahun lalu, saya dan bapak tampil di Negeri Ginseng. Saya menyajikan cerita Nenek Pakande di depan anak-anak korea, narasinya dalam Bahasa Inggris”,jelasnya.

Dongeng Sebagai Media Transformasi Nilai

Safira dan Kak Heru, sama-sama tenggelam dalam dunia dongeng. Perjalanan demi perjalanan mendongeng ditapaki bersama ayah dan anak ini.  Kak Heru meninggalkan kenyamanan dunia kerja. Meruahkan sebagian besar hidup untuk mendongeng. Keputusan yang tak mudah.

Sebagian besar masyarakat masih memandang, mendongeng sebagai jalan budaya dan kesenian ini bukanlah pekerjaan. Ia menepisnya. Di tengah stigma tentang aktivitas tersebut, ia konsisten membumikan dongeng sebagai wahana transformasi nilai-nilai.

“Terkadang, kegiatan mendongeng masih dianggap remeh dan dinilai tidak begitu penting. Padahal, melalui dongeng, kita dapat membentuk karakter anak dengan menanamkan nilai-nilai tertentu melalui cerita-cerita yang kita sampaikan”.

“Mendongeng juga dapat membantu anak untuk mengenal bahasa dan berinteraksi dengan lebih baik. Apalagi jika kegiatan ini dilakukan oleh orang tua dan anak. Mendongeng dapat menjadi salah satu alternatif untuk relation-bonding antara orang tua dan anak”.

“Menjadikan ‘pendongeng’ sebagai pilihan pekerjaan juga bukan sesuatu yang mudah. Kak Heru memilih untuk berfokus sepenuhnya menjadi pendongeng karena ketertarikannya terhadap dunia anak-anak”, jelas Kak Heru.

Ia menambahkan, salah satu cara untuk memajukan bangsa adalah dengan memiliki generasi penerus yang berkarakter unggul dan dapat memahami nilai-nilai kebudayaannya sendiri. Kak Heru kemudian mengambil peran untuk turut menanamkan nilai-nilai tersebut kepada anak-anak sejak dini melalui dongeng.

Tak hanya tampil dipentas lomba, Komunitas Rumah Dongeng ID yang dibina Kak Heru telah berkesempatan untuk berbagi cerita dalam berbagai kegiatan sosial. Seperti penggalangan dana untuk bencana alam, trauma healing, pengumpulan sedekah untuk anak yatim, edukasi hak-hak anak, kampanye gerakan membaca, dan lain-lain.

Safira mengaku, “Dunia dongeng” telah memberikannya banyak pengalaman hidup. “Seluruh pengalaman tersebut sangat berkesan. Khususnya ketika saya dan bapak memperkenalkan budaya Indonesia dalam sebuah festival internasional”.

“Saya sudah 9 tahun menjadi pendongeng, saya bersyukur karena dapat berbagi cerita dan kebahagiaan bersama anak-anak di berbagai tempat. Saya meyakini bahwa mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak,” terangnya ketika ditemui mangngukika.com di salah satu kantor media di Makassar. Wuah, mantap kakak Fira, semangat… …

*Disadur dari berbagai sumber

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*