Editor 7 Februari 2023

Mirisnya, masyarakat modern, terutama di barat, terlanjur menepikan agama dan budaya sebagai basis moral. Meski pada perkembangannya, para ilmuwan barat sangat menyadari pentingnya hal tersebut, sehingga mulai mengarahkan ilmu pengetahuan sosial pada pendekatan-pendekatan perilaku yang berbasis sosiologis.

Lalu bagaimana dengan masyarakat di negara-negara yang masih mengenal agama? Miris juga, perilaku modern, yang mencakup gaya hidup, tampak memiliki penetrasi kuat. Toh, sebagian juga mulai menilai agama adalah masalah privat.

Sekuler. Katanya, agama yang idealnya adalah basis moral dalam bertindak, tidak dalam ranah publik. Jadi, jangan heran bila pada beberapa negara dengan penduduk mayoritas beragama, sebagian diantaranya tak dapat mengendalikan diri atas hasrat pemenuhan kesenangan pribadi yang berlebihan ini.

Itu terjadi pada semua lapisan masyarakat. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat umum, diantara ciri agama tak jadi basis moral lagi dalam berperilaku adalah fenomena buang sampah sembarangan. Ketidakpedulian pada lingkungan alam. Pada arena sosial, masyarakat perkotaan kian individualistik.

Pada kekuasaan dan pemerintahan, penyalagunaan wewenang adalah yang diwaspadai semua pihak.  Banyak negara mengalami dialektika politik karena penyakit kekuasan ini.

Di Indonesia sendiri, gerakan reformasi muncul pada tahun 1998 sebagai antitesa hidup negara yang otoritarian, dan sarat kolusi, nepotisme serta korupsi para pejabat publik.

Sebab itu, tuntutan gerakan reformasi kala itu diantara yang utama adalah menumpas praktik-praktik tersebut dari tatanan pemerintahan di Indonesia.

Perubahan politik terjadi. Namun sayangnya,  KKN yang membelit era orde baru hanya mengalami transformasi ke jejaring politik lebih luas, yaitu oligarki dan mafia ekonomi di masa pasca reformasi.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*