Kesederhanaan. Kesederhanaan disini bisa dari cara pandang, bisa dari life style, dan bisa pula dalam membentuk program. Sesuatu yang sederhana (simple) biasanya identik dengan mudah, murah, dan dapat diterima orang lain.
Contoh, kita mengajar anak kecil. Tentunya kita harus memiliki jurus jitu untuk beberapa hal seperti bagaimana mengambil perhatian, bagaimana memakai bahasa dan intonasinya, posisi berdiri atau duduk, memilih bahan ajar yang tepat dan lain-lain.
Sudut pandang yang kita miliki adalah kita memberi pelajaran pada anak-anak. Tapi ada sudut pandang yang lain, yakni justru kita yang diajar anak-anak. Karena disitu kita belajar menjadi sabar, belajar menjadi apa adanya, belajar jadi simple seperti anak-anak. (Baca Juga : New Normal dalam Perspektif Perempuan)
Kesederhanaan dalam kita memandang permasalahan dalam komunitas, hendaknya dibuat sederhana. Bukan diperumit. Begitu pula dengan gaya hidup dan membuat kegiatan-kegiatan dalam komunitas.
Feedback
Jangan memakai kacamata kuda, sebuah pepatah yang kerap terdengar dalam memaknai kehidupan bermasyarakat. Kuda sangat membutuhkan kacamata tersebut, hal ini karena sebuah perjalanan yang memakai jasa kuda akan semakin cepat sampai tujuan jika kuda fokus melihat ke depan.
Namun, filosofi kacamata kuda ini tidak bisa diimplementasikan dalam kehidupan berinteraksi dengan masyarakat/komunitas. Hal ini karena komunitas adalah kumpulan manusia (bukan malaikat-pen) yang memiliki otak berbeda, hati tak sama, dan karakter lain. Sehingga dengan perbedaan tersebut komunitas menjadi rentan oleh konflik/perselisian.





