Editor 22 Oktober 2020

Ini sudah sunnatullah, atau kata orang jawa “udah dari sono nya” yang tidak bisa di rubah. Oleh karena itu hal yang paling tepat diantisipasi atas munculnya potensi konflik adalah dengan selalu membuat feedback (timbal balik) dari apa yang dilakukan.

Apakah yang dilakukan tersebut cenderung disukai orang lain? Atau sebaliknya. Sehingga bisa menjadi bahan evaluasi. Feedback ini juga sangat layak untuk menilai kualitas interaksi dan juga kualitas program yang akan dan sedang dilakukan.

Respect

Sebuah filosofi mengatakan, apabila seseorang ingin dihormati orang lain maka berlakulah menghormati orang lain terlebih dahulu. Respect (sikap menghormati) harus tercermin dari sikap siapa saja dalam bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini yang bisa melanggengkan sebuah hubungan. Sebuah kisah di zaman Rosulullah Muhammad SAW, dimana dalam masa dakwahnya banyak dicaci maki orang, dilempari batu dan kotoran. Dan juga diludahi setiap melewati suatu tempat.

Namun suatu hari Rosulullah heran, mengapa tidak ada yang meludahi. Ketika di tanya pada warga sekitar, ternyata diketahui bahwa yang sering melakukan itu sedang sakit, sehingga tidak bisa keluar rumah untuk meludahi Rosul. Saat itu juga Rosulullah menjenguk orang tersebut, dan seketika orang tersebut menjadi respect dengan Rosulullah.


Rasa penghormatan ternyata tidak hanya menjadi ranah anak kecil untuk bersikap kepada orang yang lebih tua.Tidak ada manusia di muka bumi ini yang rela tidak dihargai dalam hal apapun.

Sebaliknya, manusia akan lebih percaya diri dan kemungkinan jauh bisa lebih sukses apabila rasa dihargai oleh orang di sekitar bersemanyam di hatinya. Sehingga apabila sebuah komunitas memiliki cita-cita yang jauh ke depan, maka mutlak antar anggotanya harus bersikap respect satu sama yang lain. (NP)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*