****
Menghilangnya program menulis dan membaca ala AMS di sekolah-sekolah, tanpa pernah ada yang merasa kehilangan, adalah bukti bahwa masih minimnya pemahaman sebagian orang tentang pentingnya menulis. Menghilangkan tradisi menulis sama halnya berusaha menghilangkan sejarah karena zaman prasejarah atau nirleka berakhir setelah orang mengenal tulisan.
Karena tulisan, orang memburu dan mencari prasasti, demi mencatat sejarah yang pernah ada pada zamannya. Dengan tulisan orang muncul di permukaan sebagai orang berprestasi bahkan sebagai cendikia. Karena tulisan lahirlah karya-karya sastra yang bukan hanya bisa membuat orang menangis dan tertawa tapi juga membentuk karakter pembacanya.
Masih menurut Taufiq Ismail yang pernah menulis Vernite Mne Indoneziyu (Kembalikan Indonesia Padaku) dan diterjemahkan oleh Victor Pogadev, Moskow, bahwa Rusia yang sastrawannya pernah menerima nobel sastra, ternyata tidak mengajarkan aturan berbahasa dalam kelas meski ada ratusan aturan berbahasa Rusia.
Di kelas siswa hanya diwajibkan menulis, membaca, dan membedah buku yang telah dibacanya. Hebatnya, kewajiban itu bukan untuk mengejar nobel. Pemerintah Rusia yakin bahwa dengan membaca para siswa akan banyak mendapat nilai berupa karakter.
Bukan nilai berupa angka. Karenanya sekolah menentapkan berbagai buku wajib di sekolah yang isinya benar-benar bisa memperkuat karakter siswa. Nilai adalah tujuan, nobel atau prestasi apapun hanyalah efek samping.
Melihat fenomena siswa yang banyak rabun menulis, harusnya kategori buta huruf yang selama ini disandangkan kepada orang yang tak bisa membaca dan menulis, harusnya lebih ditingkatkan level definisinya, menjadi orang yang tak memiliki keahlianmembaca atau keterampilan menulis.
Ini penting agar ada revolusi mental demi menyelamatkan generasi. Jika tidak, lubang buaya menunggu generasi kita di depan. Mereka akan tenggelam oleh peradaban. Tanpa keterampilan menulis memang bukan sebuah keterbelakangan mental tapi tetaplah butuh terapi.
Terapi yang tepat adalah pembiasaan menulis. Dan satu-satunya jalan untuk memudahkan terapi itu adalah dengan menjadikan menulis sebagai revolusi mental. Ya, mind set harus berubah, harus direvolusi.
Jika menghilangnya program membaca dan menulis di sekolah-sekolah dimetaforakan sebagai bom sekutu yang meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki, berarti kita bukan hanya kehilangan tradisi menulis dan membaca tapi juga kehilangan generasi.
BACA JUGA : Tiga Fakta Menarik Dibalik Kedekatan Emosional Antara Orang Tua dan Anak
Apalagi di era digital seperti sekarang, pikiran generasi kita dikerdilkan dengan tontonan, game, hingga akun media sosial yang tak bisa dikendalikannya. Bagaimana mungkin buku akan menjadi candu jika layar gadget selebar buku juga tak bisa lepas dari tangannya.





