Satu-satunya cara untuk memalingkan perhatian generasi kita dari gadget-nya adalah dengan mengenalkannya dengan buku. Bacalah dan menulislah! Adalah kalimat perintah yang harus kita perdengarkan untuknya meski awalnya harus bernada memohon.
Memohon? Apa tidak terlalu hiperbolik? Sungguh tidak! Siswa harus dibuka lebar-lebar wawasannya tentang menulis. Bahwa menulis bukan hanya bagian dari aspek pembelajaran Bahasa Indonesia.
Lebih dari itu. Dalam ilmu psikologi, menulis adalah salah satu terapi untuk melepaskan kepenatan, yang fungsinya bisa sama dengan rekreasi. Dalam hal ini, menulis seperti teriakan bebas di alam terbuka bagi orang-orang stres.
Menulis juga adalah mata pencaharian. Penulis adalah profesi meskipun di form dan aplikasi mana pun, termasuk di KTP, tak ada pilihan PENULIS untuk dicentang sebagai jenis pekerjaan.
Padahal fakta memaparkan jika salah satu orang terkaya dunia, yakni di urutan ke-552, adalah JK Rowling, penulis buku Harry Potter yang fenomenal itu. Fakta yang memiriskan adalah bahwa hampir semua siswa di negeri ini belum mengetahui jika menulis bisa menghasilkan uang apalagi mengetahui jenis pembayaran tulisan berupa honor, royalti, ataupun beli putus.
Siswa rabun bahkan buta soal ini, padahal uang bisa menjadi motivasi untuk berkarya. Belum lagi, jika berbicara tentang prestasi hingga selebritas, seorang penulis buku best seller akan dikenang sebagai orang berprestasi, bisa menjadi terkenal, hingga menjadi jutawan.
Jika kita flash back untuk mencari penyebab kurangnya keterampilan menulis pada sebagian siswa juga guru, tentu sebagian orang akan menyalahkan masa lalu, terutama tentang program membaca dan menulis di AMS yang hilang.
Tapi mencari dan menemukan solusi jauh lebih penting daripada mencari penyebab. Tradisi menulis harus dibudayakan. Jika menulis menjadi budaya maka membaca akan ikut menjadi kebutuhan.
Kembali ke program membaca dan menulis AMS yang hilang. Siapakah yang bertanggung jawab dengan hilangnya program menulis dan membaca yang pernah ada di sekolah zaman Belanda? Tentu saja untuk mencari pelakunya hanya akan membuat kita saling tunjuk, saling menyalahkan.
Padahal hal urgen yang harus dilakukan adalah mencari siapa yang bertanggung jawab untuk mengembalikan tradisi membaca dan menulis serupa yang pernah ada lalu menghilang.
Apakah harus saling tunjuk lagi? Tidak! Itu jika semua merasa bahwa itu adalah tanggung jawab bersama. Jika telah menganggap ini sebagai tanggung jawab bersama, maka beban terberat sebenarnya ada di pundak guru.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki hancur dibom oleh pasukan sekutu pada tahun 1945, pertanyaan pertama Kaisar Hirohito yang menjadi pemimpin tertinggi Jepang saat itu adalah berapa guru yang selamat dari pengeboman.





