gegge 15 Oktober 2020

Jika generasi masa kini dianggap  kurang dari segi kualitas, baik itu kualitas karakter maupun keilmuan, maka salah satu misi guru yang harus dijalankan adalah misi motivasi membaca dan menulis untuk siswa. Peran guru dalam membiasakan siswa menulis bukan hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai motivator.

Jika tak bisa memotivasi menulis karena sang guru bukanlah penulis dan memang tak bisa menulis, paling tidak memotivasi siswa untuk terbiasa membaca.

Sungguh sangat menginspirasi seandainya guru menyempatkan waktu untuk bercerita di depan kelas tentang buku yang telah dibacanya. Jika ini terjadi, siswa akan terinspirasi untuk membaca dan tidak hanya berpuas diri hanya dengan membaca buku paket pelajaran.

Guru harus membuka keran   pemikiran siswa bahwa ada buku sastra, buku motivasi, dan banyak lagi jenis buku lain yang  bisa menambah wawasan bagi siswa yang gemar membaca.

Jika siswa telah terpancing untuk terus membaca, tak butuh waktu lama, mereka juga akan mencari waktu untuk menulis. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Jika dia adalah variabel yang harus memiliki rumus maka rumus yang tepat adalah M-M = 0 (menulis tanpa membaca sama dengan nol).

Semakin banyak referensi bacaan, semakin dahsyat isi tulisan yang dihasilkan. Semakin banyak buku yang telah dibaca, semakin tinggi motivasi untuk menulis hal serupa dengan bacaan yang telah menginspirasinya.

Seandainya menulis  telah menjadi budaya di negeri ini, bisa dipastikan kualitas generasi akan semakin intelek. Paling tidak, efek paling dahsyat yang muncul jika generasi kita adalah generasi melek menulis adalah akan muncul kembali media-media remaja yang bisa membangun karakternya. Karena penulis mencatat, beberapa media remaja yang dulu pernah eksis di negeri ini, akhirnya harus gulung tikar.

Sebut saja, Majalah Aneka Yess yang pernah laris hingga ke pelosok, sekarang gulung tikar. Begitu juga dengan media remaja yang lain seperti Tabloid Keren Beken, Majalah Annida, Majalah Muslimah, Majalah Anita Cemerlang, Majalah Story, Majalah Cinta, dll, dan sekali lagi, dan lain-lain yang penulis maksud lagi-lagi adalah media remaja.

Mengapa harus media remaja? Ke mana remaja kita? Mereka berdiri santai  di  pinggir kehancuran yang jauh lebih sadis dibandingkan dengan lubang buaya yang pernah menelan sepuluh pahlawan revolusi. Mereka terlena dengan dunia yang bisa dipelototinya lewat jendela informasi bernama gadget.

Tak ada pahlawan yang kesiangan. Negeri ini butuh pahlawan revolusi mental yang siap untuk menyelamatkan generasi, dan gurulah yang paling pantas untuk menyandang gelar pahlawan revolusi mental itu. Mari mengulurkan tangan untuk anak-anak kita, memotivasi mereka untuk menulis.

Guru sebagai pahlawan revolusi mental tak harus menunggu untuk diculik, cukup hanya dengan mencuri waktu beberapa menit di sela-sela pembelajaran untuk mengingatkan kepada siswa pentingnya menulis. Mental siswa harus direvolusi, tentu saja setelah guru mengubah mind set-nya tentang pentingnya menulis.

****

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*