Pertanyaan kemudian apakah harapan semua terpenuhi dari ChatGPT? Iya betul di satu sisi. Kita bisa membayangkan bahagianya seorang ustad yang mencari materi tentang potensi waqaf di masyarakat dalam kaitan dengan proyeksi kesejahteraan sekiranya potensi itu bisa diwujudkan.
Kita bisa bayangkan seorang dosen dengan keilmuan multidisipliner ingin menyampaikan presentasi tentang potensi radar untuk menandai keberadaan makhluk halus atau makhluk yang tidak bisa terindifikasi dengan kasat mata. Tentu juga betapa nyamannya banyak mahasiswa sekarang, diam-diam menulis karya ilmiah sampai pada skripsi dengan bantuan ChatGPT, tinggal memerintahkan pembatasan jumlah kata yang diperlukan.
Namun di sisi lain, ada yang tertinggal untuk keperluan kemanusiaan. Menurutku, ChatGPT belum mampu menggambarkan sisi terdalam dari sesuatu. Sekiranya ada yang ingin mendapatkan gambaran tentang hidup saya dari ChatGPT, contohnya, sekali lagi contohnya, pasti hal terdalam dari sejarah hidup saya tidak pernah bisa tersentuh, bagaimana gambaran mentalitas yang hidup berkubang dengan kemiskinan sejak kecil. Artinya, gambaran tentang sisi kemanusiaan yang esensial bisa diperoleh dengan pertautan langsung dengan pelaku kehidupan itu melalui pendalaman komunikasi.





