Yang lain, apakah kita meyakini konsep “berkah?” Bahasa asingnya “barakka” (bugis) bukan “bakara” (sukun) makanan yang anda selalu impikan saat ngerumpi. Pelajaran dari ChatGPT tidak mampu memberikan berkah. Berkah yang didapat dengan pertautan langsung antara murid dan guru, berkah itu lahir dari pertautan jiwa antara murid dan guru, berkah hadir dari “perendahan diri” murid ke gurunya, berkah menetes dari pengabdian tanpa batas murid kepada gurunya.
Satu lagi, menurutku ChatGPT terlalu teratur, tertata, dan sistematis dalam menyajikan informasi, maksudku terlalu monoton. Dan para ahli IT koreksi saya bila saya salah, sepertinya ChatGPT meskipun sangat puitis diksi-diksinya, tampaknya kurang sentuhan humoris. Mungkin OpenAI sebagai perusahaan pembuat ChatGPT diisi oleh orang-orang yang berjiwa serius, dan CEOnya, Sam Altman, mungkin juga adalah sosok kurang humoris. Ayo kita tanya ChatGPT!





