Oleh Yanuardi Syukur
“Akan tetapi, meskipun dihormati bak seorang raja, ia merasa dirinya serupa lilin, yang termakan oleh nyalanya sendiri, tanpa cukup mampu memancarkan cahaya.”
–Paragraf ketiga “Kelahiran Majnun”, Layla Majnun
Manusia selalu mengumpulkan materi selama nafas masih ada. Dapat satu, masih kurang, dan mau tambah lagi dua, tiga, empat, dan seterusnya. Keinginan yang tak ada habisnya.
Imam Syafi’i mengingatkan bahwa tak ada yang abadi, baik itu kesedihan atau kebahagiaan di dunia ini:
وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ
ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ
“Tak ada kesedihan yang kekal,
tak ada kebahagiaan yang abadi.
Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya,
begitu juga kemakmuran.”
Ketinggian, kedalaman, keluasan, dan semua jenis kekuasaan hendak dikejar manusia untuk membahagiakan dirinya.





