Orang alim menyebutnya: “mengejar dunia.” Sebuah syair berkata, “Bangsiapa Allah tujuannya niscaya dunia akan melayaninya, namun siapa dunia tujuannya niscaya kan letih dan pasti sengsara diperbudak dunia sampai akhir masa.”
Apakah tidak boleh “mengejar dunia”? Tentu saja boleh, bahkan dunia bagian dari akhirat. Artinya, bagaimana kita di akhirat sangat ditentukan oleh bagaimana kita di dunia. Agama mengajarkan visi: “bahagia di dunia” dan “bahagia di akhirat.” Pada masa “yang akan datang” dan masa “yang sekarang” kita diajarkan untuk mengejar kebahagiaan.
Kebagiaan yang paling puncak, tertinggi, atau tujuan paling mulia adalah kebahagiaan mencintai Sang Pencipta kita. “….that the end of happiness is love of God,” meminjam frasa Syed Naquib Al Attas dalam Prolegomena (1995). Kita mencintai Sang Pencipta kita, sebab kita “berutang” dan cara membayar hutang itu adalah dengan berbuat baik setiap waktu sesuai petunjuk-Nya.
Kebahagiaan dunia dapat diperoleh manusia melalui banyak cara. Mulai dari cara yang benar, bermoral sampai yang tidak benar, tidak bermoral. Orang bisa kaya raya, jadi penguasa, jadi manusia paling populer, dan seterusnya. Akan tetapi, itu semua tidak sejati, sebab pada masanya akan memudar juga, dan akan berganti dari satu orang ke orang lainnya.
Agama mengarahkan kita agar memasukkan unsur niat, cara, dan makna dari gerak hidup kita. Kita bekerja niatnya apa? Jika niatnya untuk menghidupi diri, keluarga, membahagiakan orang tercinta itu pastinya sangat mulia. Tapi, niat saja tidak cukup. Ada lagi cara. Cara mendapatkan materi itu apakah halal atau haram? Setelah itu, dialokasikan kemanakah sesuatu yang telah diperoleh itu?
Sebagian orang yang saya temui biasa bilang begini, “…Saya sama sekali ngga akan mau kasih makan anak dan istri saya dari uang haram.” Mendengar itu, saya jadi tafakkur, alangkah betulnya ucapan itu. Kenapa? Sebab harta haram itu akan merusak jiwa kita. Buya Dr. Yahya Zainul Ma’arif, pengasuh Pesantren Al Bahjah Cirebon, mengatakan harta haram itu akan berdampak pada kecerdasan batin anak: “Hidayah dari Allah jauh, ingin berbuat baik susah,” katanya.
Sufi tertentu betul-betul menjaga dirinya dari yang haram, termasuk yang “meragukan” atau syubhat. Itu mereka lakukan sebab ingin betul-betul menjaga fitrah dirinya, agar hatinya itu terus terpaut kepada Allah dan tidak tercemar dengan noktah dosa.
Tapi, adakah manusia yang sepenuhnya utuh benar dalam perjalanan hidupnya? Kita yang biasa menyebut diri “manusia biasa” sudah pasti banyak salahnya, banyak khilafnya. Agama mengajarkan adanya pintu taubat. Taubat itu selalu terbuka waktunya. Kapan saja orang mau bertaubat dari dosa-dosanya, Tuhan membuka dan Dia-lah Sang Maha Penerima Taubat.





