Mengejar dunia tidak akan pernah usai. Makin dikejar makin kehausan, ingin minum lagi berterusan. Kehebatan dunia, popularitas, nama baik, ketinggian posisi, keunggulan kapasitas, penghormatan, kekayaan, itu semua jangan membuat kita lupa dengan Sang Pencipta.
Sang Pencipta selalu beri pesan kepada diri sebagai “alam kecil” (mikrokosmos) dan “alam besar” (makrokosmos) tentang fenomena kehidupan kita yang tidak sia-sia, yakni pasti ada maksudnya. Allah SWT berfirman:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِم ۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَكَٰفِرُونَ
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Rum: 8 )
Mengejar kebaikan sebaik-baiknya, namun jangan lupa mengeluarkan hasil itu selekas-lekasnya. Jangan tumpuk-tumpuk kebaikan, sementara ada hak orang lain yang seharusnya ditunaikan. Hak orang lain bisa berupa harta kita, pengetahuan kita, atau mungkin yang sederhana: sapaan kita.
Seperti paragraf ketiga karya pujangga sufi Persia, Nizami Ganjavi (1141-1209) di atas, manusia sangat mungkin sukses dan dihormati seperti raja diraja, tapi jika jiwanya kosong dari iman dan makna hidup maka hidupnya akan terasa seperti lilin saja. Dia memberi nyala kepada sekitar tapi dia sendiri termakan oleh nyala itu.
Imam Syafi’i, dalam diwan-nya lagi, menulis:
“Siap kali waktu itu mendidikku,
setiap kali itu pula aku melihat segala kekurangan akalku.
Setiap kali ilmuku bertambah,
setiap kali itu pula kebodohanku bertambah.”





