Saat ramai tepuk tangan orang, kekosongan jiwa itu mungkin tidak terasa. Tapi, suatu waktu saat duduk sendirian, dia akan merasakan bahwa ada yang salah dari caraku menjalani hidup. Apakah segala kehebatan ini tujuan hidupku? Apakah maknaku sebagai manusia? Pada situasi yang lain, krisis, orang akan lebih dalam menemukan suara hatinya, menyadari kealpaan diri.
Jika kesadaran diri itu mungkin, selanjutnya adalah gerak hati untuk berubah. Ada yang mau berubah, tapi ada juga yang pesimis, seakan-akan tak ada harapan lagi. Padahal, selama hayat masih milik kita, selalu ada kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri pada Sang Pemilik Jiwa dan Penguasa Segala Alam Raya.
Syaratnya, jika boleh diucapkan: rendahkan dirimu, sadarilah bahwa di awal hidupmu dulu juga bukan siapa-siapa kok, seorang makhluk lemah nggak tahu apa-apa, yang kini diuji dengan kejayaan, kekuatan, kelebihan dan tepuk tangan. Bukalah pintu hatimu.
Nasihat bagi sesama, jika nasihat masih boleh disampaikan: Selalulah merendahkan diri ke hadapan-Nya, memohon petunjuk-Nya agar dijauhkan dari sifat-sifat buruk yang tersirat maupun tersurat dan mendapatkan bahagia di dunia dan kelak, insya Allah, di akhirat.
Depok, 10 September 2022
Foto sebagai ilustrasi pencapaian manusia.





