Abdul Chalid Bibbi P : Dosen dan Produser TV
Sebagai seorang muslim, apa yang anda pikirkan ketika melihat sosok George Floyd? Lelaki Afro-Amerika yang terekam meninggal di bawah tindihan lutut seorang aparat kepolisian di Amerika beberapa waktu lalu.
Peristiwa yang terekam kamera dan disaksikan jutaan mata di seluruh dunia itu telah memicu gelombang aksi unjuk rasa yang disertai kericuhan di negara-negara bagian negeri Paman Sam. Dan, sampai hari ini, aksi masih tetap berlanjut.
Untuk penulis, Floyd mengingatkan pada Bilal Bin Rabah Al Habsy, seorang lelaki mulia yang hidup lima ratusan masehi yang lewat. Se-masa dengan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Bilal adalah budak yang mengabdi pada tuan-tuan berbeda, orang-orang Arab dari suku Quraisy di Kota Makkah.
Nasibnya sebagai budak ia warisi dari ayahnya yang juga seorang budak. Tawanan yang dibawa dari Afrika dan diperjualbelikan di tanah Arab. Para ahli riwayat menyebut warna kulit Bilal, hitam. Rambutnya keriting dan berpostur tubuh jangkung, laiknya sosok orang-orang Afrika di masa itu.
Floyd dan Bilal Bin Rabah Radhiyallahu Anhu (RA) pada dasarnya bersumber dari latar sosial dan sejarah yang sama, yaitu sama-sama keturunan budak dari Afrika. Hanya zaman dan tempatnya yang berbeda.
Pendahulu Floyd diangkut dari Afrika ke Amerika, diperjualbelikan sebagai budak. Mereka di negara itu seribu enam ratusan hingga seribu delapan ratusan yang lalu adalah properti orang-orang kulit putih.
Hal sama juga dirasakan Bilal yang hidup di tanah Arab, jauh sebelum nenek moyang Floyd tiba di Amerika. Dalam sumber-sumber Islam disebut, Bilal terakhir mengabdi dan terikat pada pedagang kaya di antara suku orang Quraisy, Bani Jumah di Makkah. Umayah Bin Khalaf.
Di masa Bilal, perbudakan telah menjadi tradisi dan bagian dari kehidupan sosial masyarakat di berbagai belahan bumi. Bahkan jauh sebelumnya. Sistem atau tatanan sosial ini sudah berlaku. Budak umumnya adalah orang-orang yang kalah dari kekuatan politik yang lebih superior.





