Editor 8 Juli 2021

Setelah menyerang dan menggulingkan rezim pemerintahan Taliban di Afghanistan pada tahun 2001, Amerika Serikat dan koalisi NATO-nya tak kunjung sukses menciptakan stabilitas keamanan di negara itu. Taliban tak punah-punah.

Orang-orang Taliban yang banyak dipengaruhi pemikiran Islam dari Arab Saudi, mampu bertahan dari operasi militer Amerika. Meski mengalami kekalahan, milisi Taliban bersembunyi di pedesaan terpencil yang terletak di gunung-gunung.

Taliban yang lahir di tengah masyarakat Pashtun diuntungkan oleh kehidupan sosial masyarakat dan suku-suku Pashtun pedesaan yang bercorak Islam Salafi, terutama di daerah-daerah yang berbatasan dengan Pakistan. Mereka dapat hidup berbaur dan mendapat sokongan.

Tahun 2007, Taliban kembali bangkit dari pedesaan. Operasi militer Amerika dan sekutunya juga kian melemah dengan kebijakan luar negeri yang berubah-ubah seiring pergantian kepemimpinan di negara adidaya itu.

Sementara itu, pemerintahan demokratis yang berdiri pasca rezim Taliban juga belum mampu menarik kepercayaan penuh dari seluruh rakyat Afghanistan.  Alih-alih bisa merangkul Taliban yang anti demokrasi barat,  rezim Republik Islam Afghanistan justru disibukkan pula dengan masalah SDM dan korupsi di internal pemerintahan.

Sejumlah momentum di atas, benar-benar dimanfaatkan oleh Taliban untuk menguatkan kembali pengaruhnya. Pelan tapi pasti, mereka sukses mengorganisir kembali kelompoknya dengan menggelar serangan-serangan ke pasukan pemerintah di wilayah pedesaan. Mereka bahkan mampu menembus keamanan  Kota Kabul yang berlapis dengan teror bom mobil.

Menguatnya serangan Taliban, membuat gerakan yang diinisiasi Mullah Mohammad Omar pada 28 tahun silam itu juga kembali menguat secara politik.  Nilai tawar Taliban dapat dilihat pada berbagai perjanjian damai yang dilakukan pemerintah. Bahkan, dengan Amerika melalui mediasi Qatar.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*