Editor 8 Juli 2021

Afghanistan. Bila perang saudara pecah di negara itu, bisa berpotensi mengalami nasib serupa. Kita telah menyaksikan, betapa dahsyat dampak dari perang sipil Suriah dan Libya. Sudah tentu, tak ada rasa aman. Orang-orang kehilangan tempat tinggal, kehidupan ekonomi remuk, fasilitas pendidikan atau fasilitas publik lainnya, hancur.

Sebuah konflik akan melahirkan tesa baru. Bagi penganut mahzab berpikir ini, konflik akan menciptakan tatanan baru yang stabil bila satu pihak dapat keluar sebagai pemenangnya. Tetapi, ada syaratnya, yang kalah mesti dipaksa berasimilasi  dan menerima konsep yang ditawarkan pihak pemenang. Apa yang terjadi di Vietnam adalah contoh. Vietnam Selatan yang berhaluan komunis akhirnya memenangkan perang. Dan, sampai hari inipun, Vietnam dikuasi partai tunggal, partai komunis.

Bagaimana di Afghanistan? Hemat penulis, kondisi itu seperti sulit dicapai. Kedua pihak yang berhadapan-hadapan di Afghanistan tampak memiliki kekuatan bersenjata yang cukup kuat. Sejauh ini, Taliban mampu merebut daerah-daerah di luar kota besar. Tapi belum tentu, mampu menembus pertahanan negara yang terpusat di kota-kota besar seperti Kota Kabul. Belum lagi, dengan bangkitnya kembali milisi bekas mujahidin yang mendukung pemerintah.

Resolusi konflik melalui jalan politik dan perdamaian adalah satu-satunya cara menyelamatkan negara itu dari kehancuran. Taliban di satu sisi yang menghendaki penerapan syariat Islam secara murni sebagaimana versi rezim Taliban selama berkuasa dan pemerintah Republik Islam Afghanistan yang moderat mesti mempertemukan kepentingan mereka.

Entah, seperti apa bentuknya dalam kehidupan bernegara di Afghanistan.  Toh…, contoh cara hidup bernegara orang-orang Islam di dunia cukup beragam.

Melihat latar kehidupan masyarakat Afghanistan yang bercorak Islamis, sepertinya tak sulit mencari resolusi damai di antara mereka. Kepergian Amerika dkk mestinya jadi momentum bagi rakyat Afghanistan yang mayoritas umat Islam itu, bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri melalui resolusi damai.

Baca Juga :

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*