Editor 8 Juli 2021
Penulis : Abdul Chalid,  Dosen Ilmu Politik UTS Makassar, Humas Bulan Sabit Merah Indonesia Sulsel

Afganistan hari ini, menggiring sejenak memori kita ke Vietnam, ke tanggal 29 Maret 1973. Itu adalah hari terakhir pasukan Amerika Serikat dan sekutunya di Vietnam Selatan.  Mereka angkat kaki, setelah kurang lebih delapan tahun melakukan intervensi militer berdarah-darah di negeri Paman Ho itu_sebutan akrab bagi pemimpin kemerdekaan Vietnam, Ho Chi Minh.

Jalan politik melalui perjanjian damai terpaksa diambil Amerika karena diunjuk rasa oleh warga negaranya sendiri. Orang Amerika mulai menyadari dampak perang dan kemanusiaan dari perang Vietnam yang tak sedikit.

Ribuan orang tua di negara itu merelakan anak mereka mengikuti wajib militer. Mereka turut ambil bagian dalam operasi militer melawan geriliawan ke hutan-hutan wilayah selatan Vietnam, namun tak kembali. Beberapa sumber menyebut, korban Amerika yang tewas di Vietnam mencapai 58,315 pasukan dan 153,303 yang terluka.

Di Vietnam, Amerika harus meninggalkan sekutu mereka sendirian melanjutkan peperangan, yaitu pasukan pemerintahan republik Vietnam Selatan yang anti komunis, tepatnya pada pemerintahan di bawah partai komunis yang didirikan Ho Chi Minh di Vietnam Selatan.

Tak ada resolusi konflik antara Selatan dan Utara sejak Amerika pergi. Perang terus berkecamuk hingga pada 30 April 1975 pasukan Vietnam Utara merebut Ibu Kota Vietnam Selatan, Saigon. Vietnam kini dikenal sebagai negara komunis. Jejaknya sebagai negara republik di Vietnam utara tak tersisa sama sekali. Saigon dikenal sebagai kota besar, Ho Chi Minh City.

Apakah Afghanistan akan Serupa Vietnam?

Setelah menyerang dan menggulingkan rezim pemerintahan Taliban di Afghanistan pada tahun 2001, Amerika Serikat dan koalisi NATO-nya tak kunjung sukses menciptakan stabilitas keamanan di negara itu. Taliban tak punah-punah.

Orang-orang Taliban yang banyak dipengaruhi pemikiran Islam dari Arab Saudi, mampu bertahan dari operasi militer Amerika. Meski mengalami kekalahan, milisi Taliban bersembunyi di pedesaan terpencil yang terletak di gunung-gunung.

Taliban yang lahir di tengah masyarakat Pashtun diuntungkan oleh kehidupan sosial masyarakat dan suku-suku Pashtun pedesaan yang bercorak Islam Salafi, terutama di daerah-daerah yang berbatasan dengan Pakistan. Mereka dapat hidup berbaur dan mendapat sokongan.

Tahun 2007, Taliban kembali bangkit dari pedesaan. Operasi militer Amerika dan sekutunya juga kian melemah dengan kebijakan luar negeri yang berubah-ubah seiring pergantian kepemimpinan di negara adidaya itu.

Sementara itu, pemerintahan demokratis yang berdiri pasca rezim Taliban juga belum mampu menarik kepercayaan penuh dari seluruh rakyat Afghanistan.  Alih-alih bisa merangkul Taliban yang anti demokrasi barat,  rezim Republik Islam Afghanistan justru disibukkan pula dengan masalah SDM dan korupsi di internal pemerintahan.

Sejumlah momentum di atas, benar-benar dimanfaatkan oleh Taliban untuk menguatkan kembali pengaruhnya. Pelan tapi pasti, mereka sukses mengorganisir kembali kelompoknya dengan menggelar serangan-serangan ke pasukan pemerintah di wilayah pedesaan. Mereka bahkan mampu menembus keamanan  Kota Kabul yang berlapis dengan teror bom mobil.

Menguatnya serangan Taliban, membuat gerakan yang diinisiasi Mullah Mohammad Omar pada 28 tahun silam itu juga kembali menguat secara politik.  Nilai tawar Taliban dapat dilihat pada berbagai perjanjian damai yang dilakukan pemerintah. Bahkan, dengan Amerika melalui mediasi Qatar.

Hasilnya, perjanjian damai antara AS dengan Taliban di Doha, Qatar pada  Februari 2020 diratifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kini, pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat di bawah payung North Atlantic Treaty Organization (NATO) menarik diri dari  negara di tengah Asia Selatan dan Asia Tengah itu. Terakhir, 7 Juni 2021, pemerintah Amerika Serikat menyatakan telah menarik 90 persen pasukan mereka dari Afganistan.

Keputusan ini diikuti pula yang lainnya sehingga pemerintah Republik Islam Afghanistan kini sendirian menghadapi Taliban. Kabar terakhir, seiring ditariknya pasukan Amerika, Taliban  melancarkan serangan ke wilayah yang dikuasai pemerintah dan telah menguasai kembali seperempat wilayah Afghanistan.

Besarnya potensi ancaman Taliban ini, menarik perhatian publik Afghanistan yang pro pada pemerintah demokratis. Milisi-milisi yang lama tertidur, eks mujahidin pun dikabarkan tengah memobilisasi diri kembali, siap bersama-sama pemerintah menghadapi kemajuan Taliban di lapangan. Perang saudara, kini ada di depan mata. Lalu siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Mampukah Taliban mengikuti jejak Vietnam Utara? Apakah sebaliknya, mereka kembali akan didesak ke desa-desa terpencil di Afghanistan.

Ataukah mereka menemukan jalan tengah. Sebuah resolusi konfilk yang menghadirkan kedamaian di negara yang pernah menjadi jalur sutera perdagangan dunia itu.

Resolusi Konflik Diantara Sesama Umat Islam. Mungkinkah? 

Perang di dunia Islam bukanlah masalah baru. Sampai hari ini, di Suriah, letupan senjata masih menyalak siang dan malam. Di Libya, negara itu masih dalam bayang-bayang peperangan meski seluruh pihak yang terlibat terus mengupayakan resolusi damai. Medan perang di negara-negara yang dihuni mayoritas umat Islam itu, menjadi arena perang proxy Amerika, negara-negara Eropa, Rusia, Turki, Iran dan negara-negara Timur Tengah.

Afghanistan. Bila perang saudara pecah di negara itu, bisa berpotensi mengalami nasib serupa. Kita telah menyaksikan, betapa dahsyat dampak dari perang sipil Suriah dan Libya. Sudah tentu, tak ada rasa aman. Orang-orang kehilangan tempat tinggal, kehidupan ekonomi remuk, fasilitas pendidikan atau fasilitas publik lainnya, hancur.

Sebuah konflik akan melahirkan tesa baru. Bagi penganut mahzab berpikir ini, konflik akan menciptakan tatanan baru yang stabil bila satu pihak dapat keluar sebagai pemenangnya. Tetapi, ada syaratnya, yang kalah mesti dipaksa berasimilasi  dan menerima konsep yang ditawarkan pihak pemenang. Apa yang terjadi di Vietnam adalah contoh. Vietnam Selatan yang berhaluan komunis akhirnya memenangkan perang. Dan, sampai hari inipun, Vietnam dikuasi partai tunggal, partai komunis.

Bagaimana di Afghanistan? Hemat penulis, kondisi itu seperti sulit dicapai. Kedua pihak yang berhadapan-hadapan di Afghanistan tampak memiliki kekuatan bersenjata yang cukup kuat. Sejauh ini, Taliban mampu merebut daerah-daerah di luar kota besar. Tapi belum tentu, mampu menembus pertahanan negara yang terpusat di kota-kota besar seperti Kota Kabul. Belum lagi, dengan bangkitnya kembali milisi bekas mujahidin yang mendukung pemerintah.

Resolusi konflik melalui jalan politik dan perdamaian adalah satu-satunya cara menyelamatkan negara itu dari kehancuran. Taliban di satu sisi yang menghendaki penerapan syariat Islam secara murni sebagaimana versi rezim Taliban selama berkuasa dan pemerintah Republik Islam Afghanistan yang moderat mesti mempertemukan kepentingan mereka.

Entah, seperti apa bentuknya dalam kehidupan bernegara di Afghanistan.  Toh…, contoh cara hidup bernegara orang-orang Islam di dunia cukup beragam.

Melihat latar kehidupan masyarakat Afghanistan yang bercorak Islamis, sepertinya tak sulit mencari resolusi damai di antara mereka. Kepergian Amerika dkk mestinya jadi momentum bagi rakyat Afghanistan yang mayoritas umat Islam itu, bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri melalui resolusi damai.

Baca Juga :

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*