Editor 8 Juli 2021

Hasilnya, perjanjian damai antara AS dengan Taliban di Doha, Qatar pada  Februari 2020 diratifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kini, pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat di bawah payung North Atlantic Treaty Organization (NATO) menarik diri dari  negara di tengah Asia Selatan dan Asia Tengah itu. Terakhir, 7 Juni 2021, pemerintah Amerika Serikat menyatakan telah menarik 90 persen pasukan mereka dari Afganistan.

Keputusan ini diikuti pula yang lainnya sehingga pemerintah Republik Islam Afghanistan kini sendirian menghadapi Taliban. Kabar terakhir, seiring ditariknya pasukan Amerika, Taliban  melancarkan serangan ke wilayah yang dikuasai pemerintah dan telah menguasai kembali seperempat wilayah Afghanistan.

Besarnya potensi ancaman Taliban ini, menarik perhatian publik Afghanistan yang pro pada pemerintah demokratis. Milisi-milisi yang lama tertidur, eks mujahidin pun dikabarkan tengah memobilisasi diri kembali, siap bersama-sama pemerintah menghadapi kemajuan Taliban di lapangan. Perang saudara, kini ada di depan mata. Lalu siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Mampukah Taliban mengikuti jejak Vietnam Utara? Apakah sebaliknya, mereka kembali akan didesak ke desa-desa terpencil di Afghanistan.

Ataukah mereka menemukan jalan tengah. Sebuah resolusi konfilk yang menghadirkan kedamaian di negara yang pernah menjadi jalur sutera perdagangan dunia itu.

Resolusi Konflik Diantara Sesama Umat Islam. Mungkinkah? 

Perang di dunia Islam bukanlah masalah baru. Sampai hari ini, di Suriah, letupan senjata masih menyalak siang dan malam. Di Libya, negara itu masih dalam bayang-bayang peperangan meski seluruh pihak yang terlibat terus mengupayakan resolusi damai. Medan perang di negara-negara yang dihuni mayoritas umat Islam itu, menjadi arena perang proxy Amerika, negara-negara Eropa, Rusia, Turki, Iran dan negara-negara Timur Tengah.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*