Editor 19 November 2021

Selisihnya hanya seribu lebih, tetapi bagi supir “pete-pete” nilai itu cukup berarti. Tapi begitulah adanya. Mereka seolah tak punya pula pilihan hidup yang banyak. Hanya “pete’pete”lah sumber penghasilannya. Pilihan berat lain yang mesti ditempuh adalah melakukan penyesuaian harga tarif angkutan.

Masalahnya lagi, menaikkan tarif angkutan tak seperti membalik telapak tangan. Selain dibicarakan dengan pemerintah atau Dinas Perhubungan, juga mesti menimbang-nimbang daya beli masyarakat yang juga terdampak di masa pandemi Covid 19.

Tapi sepertinya, hanya itulah jalan satu-satunya agar “pete-pete” tetap hadir melayani masyarakat umum. Walau sepertinya bertaruh, jalan itu setidaknya yang telah ditempuh supir angkutan dari Sentral-Takalar dan Gowa-Sentral baru-baru ini.

Agas aspirasinya diterima pemerintah, para supir angkutan mogok di terminal Mallengkeri, Makassar pada 3 November 2021. Mereka menuntut agar tarif angkutan di trayek mereka dinaikkan sebesar 2 ribu rupiah.

Para supir tersebut mengaku, terdesak dengan kebijakan Pertamina yang “memaksakan” Pertalite ke masyarakat. Ketua Organda Makassar, Sainal Abidin (51) yang datang ke lokasi mogok, menjelaskan bahwa tuntutan supir untuk menyesuaikan tarif karena langkanya premium.

“Harga tarif selama ini selalu disesuaikan dengan operasional angkutan, terutama dari sisi penggunaan bahan bakar. Sekarang angkutan dipaksa menggunakan Pertalite maka secara praktis pula berpengaruh ke tarif angkutan.”

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*