Editor 24 Desember 2020

Oleh: dr. Lili Ratnawati, Sp.OG

Dismenore adalah istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan kondisi nyeri berlebih yang berasal dari kontraksi rahim selama menstruasi. Dismenore ini merupakan jenis nyeri panggul yang paling umum ditemui juga menunjukkan adanya gangguan pada menstruasi.

Penderitanya akan mengalami nyeri hebat sehingga aktivitas serta produktivitas harian terganggu bahkan ada yang membutuhkan perawatan penuh dan istirahat total. Angka kejadian dismenore sebesar 45-93% pada perempuan usia reproduksi dan paling tinggi pada remaja.

Nyeri pada dismenore ini disebabkan oleh pengeluaran berlebih prostaglandin dan meningkatnya kontraksi rahim. Prostaglandin merupakan senyawa di dalam tubuh. Ia akan meningkat saat terjadi peradangan maupun infeksi. Dismenore dibedakan dua jenis yaitu dismenore primer dan dismenore sekunder.

😰 Dismenore Primer 😰

Dismenore primer merupakan nyeri menstruasi tanpa kelainan atau penyakit organik. Dismenore primer menjadi kondisi yang paling sering dialami oleh perempuan berusia muda.

Meskipun kualitas hidup menjadi berkurang oleh adanya gangguan nyeri pada aktivitas harian namun dismenore primer ini memiliki prognosis yang baik.

Penyebab dismenore primer masih belum sepenuhnya dipahami. Saat ini, penyebab dismenore primer adalah peningkatan produksi prostaglandin disamping banyak faktor lain yang juga berperan penting dalam persepsi dan tingkat keparahan nyeri haid ini.

Produksi prostaglandin yang berlebihan akan merangsang kontraksi rahim yang berlebihan pula. Kontraksi rahim akan semakin sering dan semakin kuat diikuti oleh rasa nyeri yang semakin bertambah.

Produksi prostaglandin dikendalikan oleh progesteron, salah satu hormon dalam menstruasi. Progesteron akan mencapai kadar puncak setelah adanya pelepasan sel telur/ovum dari indung telur, selanjutnya kadarnya akan dipertahankan apabila terjadi pembuahan.

Saat tidak ada pembuahan, kadar progesteron pun ikut menurun sampai titik paling rendah sesaat sebelum keluarnya darah haid. Kadar progesteron yang drop ini akan memicu kenaikan produksi prostaglandin.

Inilah alasan mengapa dismenore hanya terjadi pada siklus menstruasi yang didalamnya terdapat proses ovulasi (pengeluaran sel telur/ovum). Ini juga menjelaskan kejadian dismenore segera setelah menarche (haid pertama kali) dan berespon baik pada terapi yang menghambat proses ovulasi. Dismenore ini biasanya terjadi 6-12 bulan setelah menarche.

😰 Dismenore Sekunder 😰

Dismenore sekunder merupakan nyeri haid yang lebih berhubungan dengan penyakit kandungan. Ia erat kaitannya dengan endometriosis dan adenomiosis, dua penyakit yang sangat berhubungan dengan siklus haid.

Penyakit atau kondisi umum lain terkait dismenore sekunder meliputi mioma, polip endometrium, Pelvic Inflammatory Disease (PID) / radang panggul, penggunaan IUD atau kontrasepsi dalam rahim.

Titik kunci pada dismenore sekunder ini adalah nyeri haid yang selalu terjadi setiap siklus menstruasi tanpa pengurangan tingkat keparahan bahkan semakin lama intensitas nyeri yang ditimbulkan semakin buruk dan aktivitas tubuh semakin terbatas sampai suatu saat tak dapat beraktivitas sama sekali oleh nyeri haid tersebut. Hal ini perlu evaluasi lebih lanjut agar dapat ditegakkan diagnosis dan mulai terapi yang tepat sesuai diagnosis.

Dismenore sekunder dapat dicurigai terjadi apabila terdapat kondisi seperti dismenore telah terjadi pada siklus pertama atau kedua setelah menarche, pertama kali merasakan dismenore setelah usia 25 tahun, kejadian dismenore lanjut setelah sebelumnya tanpa riwayat nyeri haid, adanya kelainan panggul saat pemeriksaan fisik, infertilitas / mandul, darah haid yang sangat banyak atau siklus haid yang tidak teratur, dispareunia atau nyeri saat senggama, sedikit atau tidak berespon terhadap terapi obat anti nyeri dan atau obat hormonal.

🖍️ Faktor Risiko Dismenore 🖍️

Setelah dibahas dua jenis dismenore diatas maka mari kenali faktor risiko yang berperan dalam dismenore. Adapun faktor risiko dismenore yaitu:
Menstruasi dengan jumlah darah haid berlebihan serta berkepanjangan.

Jumlah darah menstruasi yang berlebihan maupun durasi haid berkepanjangan tersebut akan meningkatkan risiko dismenore. Nyeri biasanya terjadi selama 8-72 jam terkait banyaknya darah menstruasi yang berlebih tersebut. Nyeri pinggang dan paha, nyeri kepala, diare, mual, dan muntah dapat pula terjadi pada kasus ini.

Persalinan. Persalinan menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap penurunan dismenore. Usia.

Pertambahan usia juga berhubungan dengan berkurangnya tingkat keparahan dismenore tapi ada pula penelitian menunjukkan bahwa ada perempuan dengan dismenore tingkat sedang sampai berat yang tetap tidak mengalami perubahan meski umur bertambah.

Nyeri haid yang terjadi lebih dini berhubungan dengan nyeri yang lebih parah. Riwayat keluarga yang mengalami dismenore berhubungan signifikan dengan kenaikan kejadian dismenore.

Cemas dan depresi sering berhubungan dengan dismenore dimana dismenore menjadi bagian dari somatoform sindrom. Somatoform sindrom adalah kumpulan gejala berupa keluhan fisik yang tidak menentu, namun tidak tampak pada pemeriksaan fisik akibat gangguan psikologis.
Merokok, obesitas, dan konsumsi alkohol berhubungan erat dengan tingkat keparahan dismenore.

💊 Terapi Dismenore 💊

Terapi pada dismenore ditentukan sesuai diagnosis. Terapi dismenore primer memiliki tujuan pengendalian nyeri. Pada umumnya obat anti nyeri dan atau obat hormonal digunakan untuk mencapai tujuan ini. Olah raga rutin dilaporkan berkontribusi dalam perbaikan kondisi dismenore primer.

Terapi pada dismenore sekunder disesuaikan dengan diagnosis penyakit yang mendasari. Selain itu, pada dismenore sekunder, terapi akan lebih kompleks seiring dengan hasrat bereproduksi atau keinginan hamil. Variasi terapi mencakup pemberian anti nyeri, obat hormon, akupuntur, tindakan fisioterapi, sampai tindakan operasi sesuai indikasi.

Adapun hal-hal yang bisa dilakukan sebagai tindakan awal saat dismenore terjadi adalah mengatasi nyeri sebelum mendapatkan evaluasi lebih lanjut oleh dokter. Sediakan obat anti nyeri di kotak obat emergensi (P3K) maupun di menstrual kit.

Ini akan sangat membantu untuk tatalaksana awal dismenore. Anda dapat pula menggunakan kompres hangat di bagian pinggang selama 8-12 jam cukup efektif dalam mengatasi nyeri. Cukupkan istirahat dan tenangkan pikiran. Ini akan membantu dalam mengurangi sensasi nyeri. Selanjutnya, konsultasikan dengan dokter yang merawat agar terapi lebih tepat.

Produk Herbal atau obat dan suplemen yang menjadi terapi alternatif antara lain:

1️⃣ Tiamin (Vitamin B1). Penelitian menunjukkan 100 mg tiamin setiap hari dimungkinkan efektif dalam terapi dismenore. Sebesar 87% pasien sembuh setelah dua bulan terapi.
2️⃣ Piridoksin (vitamin B6) dan magnesium. Beberapa penelitian melaporkan konsumsi piridoksin saja atau ditambah dengan magnesium mengurangi nyeri. Namun hal ini masih butuh penelitian lebih lanjut.
3️⃣ Minyak ikan. Kapsul minyak ikan yang mengandung asam lemak omega 3 dapat pula mengurangi nyeri meskipun butuh penelitian lebih lanjut. Efek samping terapi ini mual dan perburukan jerawat.

Demikian pembahasan dismenore yang disarikan dari jurnal di NCBI. Semoga bermanfaat. (Li)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*