“Kak Razzan berniat memperistrikanmu,”
Sehari setelah kalimat itu diperdengarkan Riza, murabbiyah-ku menyodorkan amplop berisi biodata dan foto Razzan. Aku seperti balon gas yang melayang, bukan karena Razzan adalah lelaki dengan kriteria sempurna tapi karena aku bisa menemukan jodohku tidak dengan mengejarnya.
Menemukan jodohku? Dulu pikirku seperti itu, ternyata keliru. Sesi terakhir dari ta’aruf kami, Razzan tiba-tiba mundur. Menurut Riza adiknya, orang tuanya tidak ingin Razzan menikah sebelum kuliah magisternya selesai.
Setelah Razzan, ada Ashri, lalu Irfan, kemudian Fitrah. Semua gagal dengan berbagai kendala. Aku berusaha tegar. Meski kemudian aku harus terempas ketika sadar bahwa lelaki baik-baik hanya untuk perempuan baik-baik. Aku bukan perempuan baik-baik hingga Allah selalu menghadirkan masalah agar tak berjodoh dengan Razzan, dan semua lelaki baik-baik yang pernah mengajukan proposal nikahnya.
Masa lalu bukan jejak langkah yang bisa terhapus hanya karena gerimis atau tertutup debu. Ia adalah bayang-bayang. Entah aku telah goyah atau karena atas nama masa lalu yang selalu membayang, aku memilih keluar dari lingkaran dakwah. Hanya keluar. Di tubuhku masih melekat hijab, tapi di hatiku? Sepertinya tidak, karena begitu beraninya aku mencuri lirik, menaruh harap, bahkan membiarkan Tafhan membangun singgasana di pikiranku.
Nama lelaki itu adalah Tafhan. Satu hal yang membuatku menangis setelah mengetahui namanya adalah bahwa dia adalah lelaki baik-baik. Aku trauma dengan lelaki baik-baik, semakin ingin memilikinya semakin Allah menyadarkanku bahwa aku tak pantas mendapatkan lelaki baik-baik karena masa laluku.
****
“Assalamu’alaikum ….”
Aku berpura-pura mencari berkas di laci meja, padahal semua telah kusiapkan sebelum dia masuk ruanganku. Pekan lalu dia memasukkan proposal permohonan bantuan untuk kegiatan organisasinya di luar. Sebagai kepala CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan, aku tak ragu jika uang yang diserahkan untuknya akan disalahgunakan.






Ah kisahnya mirip2 dg kisah seorang akhawat dahulu