gegge 15 Oktober 2020

Tafhan yang berkantor di lantai sepuluh  lebih dikenal sebagai pengurus musala gedung   lantai empat. Aku bahkan baru mengetahui setelah suatu ashar aku menyempatkan ke musala.  Tafhan naik ke mimbar dan memberi kultum. Pengakuannya, kultum itu adalah kultum terakhirnya  karena memilih resign di perusahaannya.

Kita telah dipersaudarakan dan saling mencintai karena Allah.  Jika kita saling mencintai karena Allah,  perpisahan itu tak akan pernah ada. Selama kita menyembah Allah yang sama, selama itu pula kita saling mencintai. Jarak tak bisa memisah cinta yang didasari Allah.  Letak geografis tak bisa menyekat cinta yang didasari cinta pada Allah….

Aku berdiri dan memilih meninggalkan musala  begitu kultum selesai.

“Assalamu’alaikum, Bu Arini…”

“I….iya… waalaikummussalam,”

Tanpa sadar aku telah meninggalkan Tafhan sendiri di depanku. Tanpa sadar aku telah membiarkan dia menyaksikan air mataku yang berurai.

“Bu Arini menangis karena saya mau  pindah?”

Aku menggeleng. Dan aku yakin bahwa aku tak berbohong.  Aku menangis karena mendapatinya sebagai seorang aktivis dakwah.

“Dananya insyaallah akan kami cairkan pekan depan, Ustadz.”

1 thought on “Rindu Melingkar

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*