“Ustadz?”
Keningnya berkerut, mungkin berharap aku mengganti kata sapaanku karena selama ini aku memanggilnya Pak Tafhan.
“Ada lagi yang ingin ditanyakan, Ustadz?”
Dia menggeleng. Mengangkat tatapannya beberapa senti untuk mendapatkan tatapanku lalu menunduk.
“Harusnya ukhti yakin bahwa ada taubat yang mampu menimbun masa lalu.”
Ukhti?Dia memanggilku ukhti? Bagaimana bisa dia tahu panggilan masa laluku itu?
“Afwan, ada salam dari kakak saya. Razzan!”
Dia meneruskan langkah. Meninggalkanku yang masih mengeja nama Razzan bersamaan kerinduan duduk melingkar dan bermajelis.
***






Ah kisahnya mirip2 dg kisah seorang akhawat dahulu