gegge 15 Oktober 2020

“Ustadz?”

Keningnya  berkerut, mungkin berharap aku mengganti kata sapaanku karena selama ini aku memanggilnya Pak Tafhan.

“Ada lagi yang ingin ditanyakan, Ustadz?”

Dia menggeleng. Mengangkat tatapannya beberapa senti untuk mendapatkan tatapanku lalu menunduk.

“Harusnya ukhti yakin bahwa ada taubat yang mampu menimbun masa lalu.”

Ukhti?Dia memanggilku ukhti? Bagaimana bisa dia tahu panggilan masa laluku itu?

Afwan, ada salam dari kakak saya. Razzan!”

 Dia meneruskan langkah. Meninggalkanku yang masih mengeja nama Razzan bersamaan kerinduan duduk melingkar  dan bermajelis.

***

1 thought on “Rindu Melingkar

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*