Proxy Arab vs Iran yang Tak Usai
Salah satu masalah utama tak berakhirnya perang Yaman adalah proxi antara Arab Saudi dan Iran. Dua negara besar di Timur Tengah dan Asia ini mewakili Mazhab Sunni dan Syiah. Keduanya sampai kini berebut pengaruh secara politik di Timur Tengah.
Arab Saudi memandang Iran dalam satu dekade terakhir mempraktikkan politik progresif dan berusaha mengimpor revolusi Iran ke sejumlah negara di Timur Tengah.
Saudi setidaknya melihat upaya tersebut di Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Bahrain, Yaman, dan bahkan meningkatnya sentimen anti kerajaan oleh sekelompok minoritas Syiah di kawasan Al Qhatif dalam wilayah Kerajaan Arab Saudi.
Di pihak Iran, Arab Saudi dipandang sebagai negara yang terlalu dominan dalam mencampuri urusan negara-negara di Timur Tengah. Termasuk dianggap sebagai negara pengimpor paham Wahabi yang sangat anti terhadap Sekte Syiah. Kebencian Iran bertambah karena Saudi memiliki kerjasama yang kuat dalam bidang militer dengan negara barat, terutama Amerika Serikat yang menjadi musuh bebuyutan Iran.
Persaingan Iran-Saudi memuncak pada tahun 2016 ketika Arab Saudi mengeksekusi ulama Syiah berpengaruh di Saudi dan Timur Tengah, Sheikh Nimr al Nimr. Ulama ini dituduh mengorganisir perlawanan dan pemberontakan sekelompok orang Syiah di Al Qhatif terhadap kerajaan.
Mengecam langkah Saudi tersebut, masyarakat Syiah di Iran menyerbu dan membakar kedutaan besar Arab Saudi di Teheran. Sejak itu, hubungan diplomatik Iran dan Saudi putus. Persaingan politik kedua negara, tampak meningkat menjadi persaingan atau sentimen mahzab yang mendorong pertikaian sektarian di Suriah, Irak, Lebanon, dan ke negara-negara Islam lainnya.
Bagaimana Masa Depan Perdamaian di Yaman?
Faktor kunci perdamaian Yaman adalah politik diplomasi yang harus diawali dari dua kekuatan perang proxy di Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi.
Namun, melihat situasi terakhir di Yaman, konflik ini tampaknya masih berlanjut di tahun 2021. Terbentuknya pemerintahan bersama antara pemerintah Yaman dan Dewan Transisi Selatan membuka jalan bagi Saudi dan koalisi Arabnya untuk memulai operasi militer baru di negara miskin itu.
Dengan kekuatan yang terkonsolidasi dengan baik maka pemerintahan baru Yaman bisa melangsungkan pemerintahan secara efektif di Yaman. Isu-isu terkait korupsi dan masalah ketimpangan ekonomi yang selama ini menjadi senjata Houthi dalam membangun pengaruh sosial dan politik di Yaman bisa direduksi.
Dari sisi militer, penyatuan kembali antara loyalis Mansour Hadi dan Dewan Tansisi Selatan dapat mengimbangi kekuatan pejuang Houthi yang dikenal berjumlah lebih banyak. Jadi, perang mungkin masih akan berlanjut. Wallahu ‘alam





