Di masa 100 hari pemerintahannya ini, Trump tampaknya belum dapat menjanjikan perubahan yang signifikan bagi ekonomi Amerika. Dalam beberapa kasus, seperti dalam perang tarif dagang dengan Cina, alih-alih meningkatkan ketergantungan negara itu, Trump justru tampak menunjukkan sikap melunak. Sikap itu sebagai potret bahwa ekonomi Amerika sejauh ini tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh perdagangan global. Termasuk dengan Cina.
Ketegangan ekonomi global yang disebabkan Amerika-Cina sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2o18. Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang Tiongkok senilai $34 miliar. Tiongkok kemudian membalas dengan tarif serupa terhadap produk-produk AS. Tahun 2025, Trump kembali memimpin Amerika, kebijakan itupun kembali terjadi. Dimulai dengan pemberlakuan tarif dasar 10 persen oleh Trump pada hampir seluruh barang yang akan masuk ke Amerika. Bagi China berlaku tarif resiprokal 34 persen. Langsung ditolak tentunya. Cina juga memberlakukan tarif yang sama 34 persen bagi barang Amerika. Dan seterusnya. Kedua negara itu terus berbalas.
Persoalannya terbesarnya adalah, negara-negara berkembang justru yang mendapat dampak besar dari perang dagang ini. Termasuk ke Indonesia yang dikhawatirkan bisa rugi dalam kegiatan ekspor sejumlah komoditas yang selama ini dibutuhkan masyarakat Amerika. Dan kerugian ini bisa berefek domino ke dalam negeri seperti adanya ancaman pemutusan hubungan kerja, inflasi, dan lain sebagainya. Menyikapi tarif Trump, banyak pihak menyarankan pemerintahan Prabowo bernegoisasi ulang dan membangun kesepakatan dagang. Tapi mungkinkah Indonesia bisa membangun nilai tawar dengan presiden eksentrik itu?





