Editor 4 Januari 2021

Sebanyak 12 orang dari Yatsrib selesai berbaiat. Saat pulang ke daerahnya, Rasulullah ﷺ menyertainya dengan seorang sahabatnya dari kalangan Quraisy Makkah.

Mush’ab bin Umair dipilih Rasulullah  menemani ke 12 orang tersebut. Dan, berangkat menyiarkan Islam secara langsung ke Yatsrib.

Mush’ab adalah  satu dari beberapa saja pemuda dari kalangan suku Quraisy yang menganut agama Islam dari tahap pertama dakwah Rasulullah di Makkah. Ia berasal dari keluarga terpandang dan mapan di Makkah.

Sebelum menyentuh ajarah Islam, ia dikenal senang hidup mewah. Tak ada yang berpakaian se-rapi dirinya kata sejumlah riwayat. Ia senang menggunakan minyak wangi. Dan, tak ada yang sewangi minyak wanginya.

Orang-orang yang melalui jalan yang telah dijejaki Mush’ab akan berkata, “Mush’ab telah melalui jalan ini”.

Sampai suatu ketika, Mush’ab memilih memeluk Islam. Dan, segala kemewahan itu pun hilang.

Riwayat menceritakan, Mush’ab yang senang jalan-jalan melihat majelis ilmu Rasulullah bersama sahabatnya di rumah salah seorang pemuda Quraisy lainnya, Arqam. Ia tertarik, dan singgah.

Ia yang tengah mencari-cari kebenaran, ikut menyimak dan berdiskusi.

Apa yang dijelaskan Rasulullah masuk di akal dan di hatinya.

Sejak itu, ia memutuskan menanggalkan kepercayaan kafir Quraisy dan memeluk agama Islam.

Mush’ab beruntung, hidupnya berada dalam bimbingan langsung Nabi Muhammad ﷺ. Ia menjadi sahabat sekaligus murid yang benar-benar mempraktikan ajaran dan menempuh jalan dakwah sebagaimana dilakukan junjungannya. Ia menjual jiwanya kepada Allah. Ia mencintai Nabi dan Allah melebihi diri dan keluarganya.

Di awal keislamannya, Mush’ab menyampaikan dakwah secara sembunyi. Ia khawatir, keputusannya mengundang murka dari ibu yang dicintainya.

Tapi, sampai kapan jalannya itu tersembunyi?Mungkin Mush’ab berpikir.

Bagaimanapun dakwah Islam, jalan keselamatan yang ditunjukkan Nabi harus ia sampaikan. Terlebih pada orang-orang yang dicintainya.

Hingga suatu waktu, ia menyampaikan pilihan hidupnya itu ke ibunya. Ia mengajak perempuan yang disayanginya itu meninggalkan kebiasaan kafir Quraisy dan memeluk ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Ajakannya itu direspon marah oleh ibunya. Sebaliknya, ia meminta Mush’ab meninggalkan ajaran tauhid.

Tetapi Mush’ab teguh pada pilihannya. Karena itu, ia pun diminta ibunya meninggalkan rumah. Berikut segala kenikmatan harta yang diperoleh Mush’ab selama bersama keluarganya.

Sepupu sekaligus sahabat Nabi ﷺ Ali Ra mengungkapkan, “Aku datang ke masjid, lalu Mush’ab bin Umair datang kepada kami sambil memakai sebuah jubah yang ditambal dengan kulit, padahal sebelum itu dia termasuk pemuda Makkah yang paling makmur dan hidup dalam kemewahan. Ketika Nabi Muhammad ﷺ melihatnya, beliau menangis karena teringat kenikmatan masa lalunya dan beliau melihat keadaannya saat ini sehingga kedua mata beliau meneteskan air mata”.

Lanjut kata Ali Ra, Rasulullah lalu bertanya kepada para sahabatnya yang hadir saat itu,” Apakah kalian pada hari ini lebih baik ataukah (kalian lebih baik) ketika salah seorang dari kalian diberi makan satu nampan roti dan daging?” Maka kami menjawab, “Pada hari itu kami lebih baik. Kami mendapatkan kecukupan hidup sehingga kami bisa konsentrasi beribadah.” Maka Nabi bersabda, “Tidak, justru kalian pada hari ini lebih baik daripada kalian pada hari itu.”*

Kehidupan dakwah Mush’ab benar-benar teruji selama fase Mekah. Cintanya pada Islam tak goyah oleh godaan harta dan keluarganya. Mungkin,  itulah sebabnya Mush’ab dipercaya Rasulullah mengemban amanah menyebarkan ajaran Islam ke Kota Yatsrib.

Amanah yang tak ringan dan mudah. Bagaimanapun ia menjadi pembuka jalan dakwah Rasulullah sebelum hijrah ke kota yang kemudian dikenal dengan Kota Madinah Al Munawwarah.

Dari Ibnu Syihab Rahimahullahu berkata, “Manakala orang-orang Madinah membai’at Nabi ﷺ , di ‘Aqabah, mereka pulang kepada kaumnya. Mereka mengajak kaumnya kepada Islam secara rahasia. Mereka membacakan al-Qur-an kepada kaumnya. Mereka mengutus Mu’adz bin Afra’ dan Rafi’ bin Malik kepada Rasulullah ﷺ, meminta beliau agar mengirim seorang laki-laki untuk menyeru manusia kepada kitab Allah karena peluangnya untuk diikuti sangat besar.

Maka Rasulullah ﷺ mengirim Mush’ab bin’Umair kepada mereka. Mush’ab mengajak mereka dengan aman dan Allah memberi hidayah kepada manusia melalui kedua tangannya sehingga tidak ada kampung dari kampung-kampung Anshar kecuali pemukanya telah masuk Islam. ‘Amr bin al-Jamuh masuk Islam’ Dia menghancurkan berhalanya sendiri. Dan orang-orang muslim adalah orang- orang yang paling mulia di Madinah. Lalu Mush’ab kembali kepada Rasulullah ﷺ, dan dia dikenal dengan julukan al-Muqri.

Misinya berlangsung baik meski sempat mendapat tantangan dari sejumlah kabilah di Madinah. Ia kembali lagi ke Mekah membawa 70 pemuka dari Madinah. Mereka berbaiat kepada Rasulullah yang dikenal dengan baiat Aqabah kedua.

Begitulah kisah perjuangan dakwah Mush’ab bersama Rasulullah ﷺ dari Mekah hingga Madinah. Sampai akhirnya, perang Uhud berlangsung, dan Mush’ab jadi satu dari sekian sahabat yang menjadi syuhada.

Berkata Ibnu Sa’ad, diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al Abdari dari bapaknya, ia berkata; “Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala pasukan kaum muslimin pecah, Muhs’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan,”Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan, Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”. 

Pada perang Uhud, pasukan muslimin benar-benar terkepung. Rasulullah ikut terkepung, terjatuh dan mengalami luka-luka. Demi melindungi junjungannya, Mush’ab bin Umair tak meninggalkan posisinya saat pasukan muslimin terdesak mundur. Cintanya pada Islam, Nabi dan Allah SWT yang melebihi diri, keluarga dan harta, ia tunjukkan hingga akhir hayatnya.

* Dalam riwayat dan sirah Nabawiyah disebutkan nama-nama enam pemuda tersebut, masing-masing; As’ad bin Zurarah dari Bani An Najjar, Auf bin Al Harits bin Rifa’ah bin Afra dari Bani An Najjar, Rafi’ bin Malik bin Ajlan dari Bani Zuraiq, Quthbah bin Amir bin Hadidah dari Bani Salamah, Uqbah bin Amir bin Nabi dari Bani Ubaid bin Ka’ab, Jabir bin Abdullah bin Ri’ab dari Bani Ubaid bin Ghanm

* Jabir bin Abdullah bin Ri’ab

*HR Tirmidzi No 2476

Nb : Kisah disadur dari berbagai sumber sirah Nabawiyah,  kisah sahabat dan buku-buku Islam lainnya yang membahas jejak sahabat Nabi ﷺ. 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*