Editor 1 April 2022

Namun, ada aliran feminisme radikal kultural yang menolak pornografi karena dianggap mendudukkan perempuan pada relasi tak setara, atau hanya menjadi objek untuk menumbuhkan keinginan seksual laki-laki. Kemudian ada pula post feminisme, yang lebih menitikberatkan pornografi tergantung pada konteks dan derajat tertentu. Misal untuk kepentingan membela kelompok-kelompok minoritas, mereka tak menolak Pandangan di atas sebenarnya hanya cermin dari perang pemikiran dalam berbagai aspek di negeri kita.

Tak hanya di media, tapi pada bidang lain seperti karya sastra dan seni juga terjadi. Bahkan di arena politik. Di luar tiga aliran tersebut, sebenarnya terdapat kelompok yang paling kuat menentang pornografi. Para agamawan atau teolog feminis merupakan elemen paling keras dalam menentang pornografi. Tentu pandangan ini menyangkut eksistensi manusia sebagai makhluk
beragama.

Dalam analisis framing, tentu paradigma intrapersonal dan interpersonal sangat berpengaruh dalam merekontruksi fakta dalam sebuah peristiwa. Sebab itu, ada pandangan yang menilai, sebagian besar sosok di balik media Indonesia adalah kelompok libertarian. Itu tampak dari paradigma media Indonesia yang cenderung mengabaikan konteks, yaitu nilai umum dari mayoritas. Khususnya interpretasi terhadap kebebasan berekpresi. Ada kesan, nila-nilai lokalitas dan agama yang mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia dianggap kolot dan ketinggalan zaman. Termasuk dalam masalah perempuan.Tapi pada aspek lain, sikap personal di balik media acapkali menunjukkan inkonsistensi. Dari analisis penelitian di atas, pada aspek lain tak jarang subordinasi lelaki terhadap perempuan dalam budaya patriarki sangat tergambar dalam bingkai media. Seperti pada berita-berita kasus kekerasan, dan stereotipe perempuan pada urusan domestik. Tengok saja berita-berita
harga barang di pasaran, umumnya selalu menampilkan ibu-ibu.

Atau berita kasus-kasus kekerasan rumah tangga, pembantu, tenaga kerja Indonesia, dan lain-lain yang menempatkan perempuan pada tingkat tertentu. Merebut ruang wacana Dalam masyarakat kapitalis, media merupakan alat hegemoni paling berpengaruh. Oleh karena itu, selalu menjadi arena tarik menarik kepentingan ekonomi dan politik. Perempuan, tak jarang hanya dipandang tak lebih dari sekadar komoditas ekonomi pada media. Apa yang laku di pasar, itulah yang baik. Tak heran sensualitas menjadi salah satu sisi paling banyak diusung dari perempuan.

Sebagian pihak menganggap kekerasan terhadap perempuan juga bagian dari mata rantai efek media massa. Eksploitasi terhadap perempuan, bahkan anak-anak di bawah umur melalui video-video terus merebak. Kenyataannya, Indonesia juga ditempatkan sebagai negara dengan khalayak pengakses situs porno terbesar di dunia. Bagaimana melawan kekerasan terhadap perempuan dalam wacana media? Dalam workshop writng for women baru-baru ini, AJI Makassar sebagai lembaga profesi jurnalis yang konsen pada penegakan profesinonalisme, mengumpulkan perwakilan 15 komunitas perempuan di Makassar. Bagi AJI Makassar, salah satu jalan melawan kekerasan terhadap perempuan adalah mendorong komunitas tersebut merebut ruang wacana di media.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*