Editor 16 Desember 2024

Walaupun minim pengalaman bahari, Saldanha ditunjuk untuk memimpin satu regu yang merupakan bagian dari armada Afonso de Albuquerque menuju India untuk memperkuat pemukiman Portugis di Cochin, kota Pelabuhan besar di India di sepanjang Pantai Malabar yang berbatasan dengan Laut Laccdive (saat ini di negara bagian Kerala, India).

Tujuan Albuquerque yang utama adalah mengamankan perdagangan rempah-rempah dengan mencapai ke the spices Island, yakni Ternate dan Tidore.

Saldanha adalah pendaki pertama yang mendaki Table Mountain di Cape Town pada 1503. Menurut Ensiklopedia Britannica, “The first European to anchor at Table Bay and climb Table Mountain was the Portuguese navigator Antonio de Saldanha.” Ia bertemu dengan beberapa ratus penduduk asli, suku Khoe yang perekonomiannya bergantung pada penggembalaan, perburuan, dan pengumpulan.

Setelah kunjungan Saldanha, kapal-kapal Eropa terus berlabuh di Teluk Table untuk mengambil air tawar, daging, dan perbekalan lainnya.

Para penyintas kapal Belanda Haerlem, yang karam di Teluk Table pada tahun 1647, membawa pulang laporan yang sangat menggembirakan tentang wilayah tersebut sehingga para direktur Perusahaan Hindia Timur Belanda memerintahkan agar sebuah stasiun untuk memasok kapal-kapal yang akan ke timur.

Dari situ, Cape Town kemudian bertahap menjadi komunitas dan kota, termasuk sebagai tempat pembuangan politik ulama yang melawan Belanda dari Indonesia.

Pada Sabtu, 7 Desember 2024, kami bertiga dari Indonesia, yakni Yanuardi Syukur, Abdul Kadir Ali dan Irma Zahrotunnisa Wijaya ‘disambut’ oleh Table Mountain tersebut. Gunung dengan puncak datar yang menghadap ke kota Cape Town, tempat dimana 8.200 spesies, terutama fynbos atau semak halus menikmati hidup tersebut setia membersamai dan menjaga tanah Cape Town tetap stabil. Menurut info, tiap tahun tidak kurang dari 4,2juta orang beraktivitas di gunung tersebut yang telah menjadi taman nasional juga.

Negeri kami, Indonesia yang dulu dikenal sebagai Nusantara dengan berbagai kerajaan/kesultanan, pernah menjadi perebutan bangsa-bangsa di Eropa secara bergantian. Mereka datang dengan berbagai aktivitas seperti berdagang, menaklukkan, konversi keyakinan, bahkan tak jarang memecah belah masyarakat demi tujuan temporal.

Para pemimpin kami yang menyuarakan kebenaran pun ditangkap, bahkan diasingkan jauh dari rumahnya; diantara mereka ada yang dari Tidore, Makassar, Sumbawa, Madura, Batavia, dan Sumatera untuk diasingkan apakah ke Sri Lanka atau lebih jauh lagi ke Cape Town. Namun, kekuatan hati mereka tetaplah teguh; di Cape Town misalnya, mereka justru membebaskan budak dengan memeluk agama Islam, bahkan mendirikan masjid dan madrasah yang syiar keislaman tersebut masih terus bergema di Afrika Selatan.

Misi ke Cape Town, ‘tanah para wali’

Misi kami ke Cape Town adalah berdasarkan tugas dari Negeri Rempah Foundation yang bermitra dengan Kementerian Kebudayaan (sebelumnya Kemendikbud Ristekdikti) untuk ke Afsel dalam rangka misi diplomasi budaya jalur rempah. Selain Afsel, tim NRF juga telah berkunjung ke beberapa negara seperti Madagaskar, China, UK, dan lainnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*