Editor 16 Desember 2024

Cape Town siang itu begitu cerah. Sebuah peta besar kota tersebut menyambut kami menjelang keluar dari bandara. Kami disambut oleh dua orang, yakni Mas Rio, seorang lokal staff Konsulat Jenderal RI di Cape Town dan Syekh Imron, dosen di International Peace College South Africa (IPSA) yang mengatur jadwal kunjungan dan destinasi kami serta tuan rumah simposium internasional terkait ‘Cape Town to Jakarta’, melacak akar-akar sejarah relasi antara Afrika Selatan dengan Indonesia. Bersama Syekh Imron juga adalah anaknya bernama Khadijah.

Sebelum menuju ke guest house—tempat menginap Irma—dan rumah salah seorang diplomat KJRI—tempat menginap saya dan Abdul Kadir Ali—kami mencoba menikmati kuliner kota ini. Hari cukup panas, tapi berangin. Kami memilih mencari makanan cepat saji, yakni kentang dan ikan, sebab di outlet kecil tersebut tidak tersedia nasi. Walaupun di pesawat kami juga menikmati berbagai sajian makanan, tapi makanan pertama di selatan Afrika ini mengandung kesan tersendiri, apalagi angin siang itu menyapu-nyapu pori-pori dengan lembutnya. Rasanya ingin segera tidur setiba di rumah nanti. Di rumah kepala kanselarai KJRI Cape Town, Shinta Hapsari, kami disambut dengan sangat ramah dengan pelayanan yang menyenangkan, termasuk berbagi cerita dengan suaminya, KH. Aas Subarkah, seorang tokoh Muslim Indonesia lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir.

Syekh Yusuf: inspirator agama dan kemerdekaan Afsel

Kami juga sempat mampir ke desa Macasar, tempat dimana Syekh Yusuf dikebumikan. Makamnya berada di atas bukit. Di sebelah kanan pintu masuk makam ada rumah masyarakat, sedangkan sebelah kiri, depan dan belakang pintu masuk tidak ada rumah. Tak jauh dari lokasi tersebut adalah Teluk False (False Bay) yang terhubung langsung dengan Samudra Atlantik Selatan.

 

Di situ kami berdialog dengan seorang ibu penjaga makam. Beliau bercerita bahwa hal penting dari perjuangan Syekh Yusuf adalah pentingnya mengikuti Al-Qur’an. Artinya, mengikuti Al-Qur’an merupakan kunci untuk menjadi Muslim yang baik. Di sebuah tugu sebelah kanan pintu masuk kita juga dapat melihat gambar Al-Qur’an selain gambar kapal yang membawa Syekh Yusuf. Pada dinding kanan makam ada prasasti terkait kunjungan Presiden Soeharto pada 21 November 1997 untuk memberikan penghormatan terhadap Syekh Yusuf yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 7 Agustus 1995 dan pada tahun 2005 Presiden Afrika Selatan Oliver Reginald Thambo menganugerahi beliau dengan the Order of the Companions of OR Tambo in Gold. Selain Pak Harto, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah ke sini. Masjid yang ada di sekitar makam diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla yang merupakan keturunan dari Bugis.

Syekh Yusuf adalah sosok kharismatik. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama besar, tapi juga wali dan pejuang anti-kolonialisme. Gelar ‘syekh’ dan ‘tajul khalwati’ yang melekat padanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang mursyid atau pemimpin tarekat Khalwatiyah yang mencapai derajat sufi atau wali. Bahkan, beliau juga disebut dalam bahasa Makassar sebagai ‘tuanta salamaka’ atau ‘pembawa berkah dari Gowa/guru kami yang agung dari Gowa.’ Syekh Yusuf diasingkan Belanda ke Ceylon (kini Sri Lanka) pada 1684 selama 10 tahun. Oleh karena ia memberikan pengaruh pada jama’ah haji Indonesia yang mampir ke Sri Lanka, maka ia kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih jauh, yaitu Cape Town pada 1694. Lima tahun di Cape Town, beliau kemudian wafat pada 23 Mei 1699 dengan meninggalkan pengaruh yang besar bagi umat Islam di kota tersebut.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*