Di antara hal penting yang perkataan Syekh Yusuf adalah dalam kitabnya Sirrul Asrar. Mengutip Nur Ahmad (alif.id, 21/5/2020), bahwa Syekh Yusuf berpesan bahwa lebih baik seorang yang merupakan pemula dalam perjalanan menempuh pembersihan diri untuk melakukan zikir laa ilaha illallah sebanyak-banyaknya. Syekh Yusuf menyebutkan sehari semalam sebanyak sepuluh ribu kali. “Tujuannya adalah agar anggota tubuh seseorang, termasuk tulang-tulang dan urat-urat yang ada di tubuhnya “tercampur” dengan zikir-zikir itu,” lanjut Nur Ahmad.
Menurut saya, kita patut belajar banyak perjuangan Syekh Yusuf. Pertama, semangat mencari ilmu. Syekh Yusuf pernah belajar Islam di Banten, Aceh, Gurajat (India), Yaman, Haramain (Mekkah dan Madinah), dan Damaskus dalam masa 20 tahun (1646-1667). Berbagai tarekat pernah ia pelajari dan mendapatkan ijazah seperti Qadiriyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Ba’alawiyah, dan Syattariyah, termasuk belajar tarekat tanpa mendapatkan ijazah pada tarekat Dasuqiyah, Syadziliyyah, dan Rifa’iyyah. Kedua, semangat mengajarkan ilmu. Sebelum kembali ke Indonesia, Syekh Yusuf pernah mengajar selama lima tahun di Masjidil Haram, Mekkah. Di Cape Town, pengamalan zikir Ratib Al-Haddad adalah ajaran dari Syekh Yusuf.
Tuan Guru Abdullah: pendiri masjid dan madrasah pertama di Afsel
Ziarah makam tidak lengkap jika tidak ke makam Tuan Guru Abdullah (1712-1807) dari Tidore. Tuan Guru sangat spesial sebab berasal dari Tidore, sebuah pulau dimana Abdul Kadir Ali mengajar di Universitas Nuku yang juga berdekatan dengan tempat saya mengajar, yakni Universitas Khairun, Ternate. Nuku dan Khairun adalah nama sultan masyhur dari Tidore dan Ternate yang diabadikan jadi nama universitas. Di makam Tuan Guru, kami bercerita dengan penjaga makam, terutama hal-hal mistik yang ia ketahui atau bahkan alami sebagai penjaga makam.





