Jalanan menuju barabaraya baru setengahnya mendapat bantuan desa. Bantuan berupa pengerasan yang sampai kini juga tak tuntas-tuntas. Tapi masyarakat Barabaraya, ungkap Ansar, merasa lebih bersyukur dari keadaan sebelumnya. Selain pengerasan dan upaya pembetonan jalan, sekarang ini pemerintah setempat juga mulai membangun jembatan dari beton yang menghubungkan kampung tersebut dengan dunia luar. Sembari menanti pembangunan itu tuntas, masyarakat masih memanfaatkan sebuah jembatan gantung yang turun temurun dibangun secara swadaya oleh mereka.
Kampung bara-baraya, Dusun Tanete Bulu, Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi selatan dihuni hanya puluhan keluarga. Mereka telah tinggal di kawasan ini sejak lama. Jarak rumah-rumah mereka saling berjauhan, diselai perkebunan, kawasan hutan lindung dan produksi terbatas.
Sumber kehidupan warga kampung ini dari pertanian. Sawah tadah hujan yang ditanami sekali dalam setahun. Juga perkebunan terbatas, khusus komoditas jagung. Sebagian pula dari hasil hutan seperti produksi gula merah dari nira pohon aren. Di Barabaraya, warga harus serba hati-hati menebang dan menggarap lahan karena sawah, ladang dan rumah mereka hidup berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung.
Akses ke dan dari kampung ini baru-baru saja terbuka sebenarnya. Sebelumnya, masyarakat di sini tertutup. Terlebih lagi akses pendidikan yang kemudian menarik para relawan untuk datang. Sebab itu, kehadiran mereka benar-benar dihargai oleh penduduk setempat.
Ansar, ketika memasuki area perkampungan itu. Ia disambut sangat hangat oleh para orang tua, dan anak-anak setempat. Hubungannya dengan warga setempat tampak sudah sangat lekat sejak lama. Di sepanjang perjalanan. Bahkan dari kejauhan. Dari pondok-pondok sawah dan ladang yang tersusun rapi di tepi hutan lindung. Rasa bahagia tampak terbinar dari teriakan-teriakan mereka ke kami. Begitupula ketika kawan-kawan Ansar menyusul pada malamnya. Mereka disambut sangat hangat oleh warga setempat.
***
Adalah Daeng Raga pelopor pendidikan di Kampung Barabaraya. Ia warga tertua di di sana. Entah umur berapa ia sekarang. Ketika ditanya tentang usia, ia hanya selalu menyebut peristiwa perlawanan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan sebagai tonggak waktu. Ia masih kecil kala itu, katanya. Menurutnya, Kampung Barabaraya yang terletak di tengah hutan gunung ini merupakan warisan pejuang yang tergabung dalam gerakan tersebut. Saat pemerintah memenangkan peperangan, para orang tua mereka tetap memilih tinggal di hutan, dan kini berubah menjadi sebuah kampung.
Sayangnya, warga di kampung ini mengalami kesenjangan pengetahuan dari orang tua mereka. Tak hanya pendidikan umum, pendidikan agama yang biasanya sangat kental dipegang teguh bekas pejuang DI TII di Sulawesi Selatan juga tak berbekas di antara mereka.
Anak-anak di kampung ini jauh tertinggal dari anak-anak yang berada di luar kampung. Sadar dengan kondisi itu, Daeng Raga yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap nira tersebut mendukung agar akses pendidikan ke kampung mereka terbuka lebar. Salah satunya, dengan menghibahkan lahannya untuk pembangunan gedung sekolah semi permanen oleh para relawan.
Sebelumnya, proses belajar mengajar anak-anak Kampung Barabaraya dilangsungkan di kolong rumahnya. Sekolah tersebut dibina guru-guru dalam naungan departemen agama. Guru-guru tersebut silih berganti. Tak tahan kehidupan kampung yang jauh dari keramaian. Kini, hanya seorang guru honorer bertahan. Abdul Halik namanya. Ia sangat kagum dengan sosok Daeng Raga.





