Editor 27 Januari 2021

“Daeng Raga adalah sosok pahlawan pendidikan di kampung ini. Ia rela berkorban demi terdidiknya anak-anak mereka. Terutama tempat untuk belajar mengajar kami,” ungkap Abdul.

Lulusan pendidikan keguruan di salah satu kampus swasta di Makassar itu menambahkan, berkat perjuangan pendidikan Daeng Raga, anak-anak di Barabaraya sudah bisa baca tulis. Juga sudah bisa membaca Al Qur an.

“Bagaimana mau mengaji. Awal saya datang di sini, tak ada warga yang tahu berbahasa Indonesia. Termasuk anak-anak mereka. Sekarang ini, anak-anak didik kami mengalami kemajuan. Mereka sudah berbahasa Indonesia dengan lancar, bisa memahami semua pelajaran dengan baik. Termasuk baca Al Qur an. Dan lebih berkembang lagi setelah teman-teman relawan terlibat,” terangnya.

Sekarang ini, rumah Daeng Raga juga menjadi posko tetap relawan sekolah kolong. Setiap relawan yang datang, tinggal secara gratis. Begitu juga Abdul Halik. Ia beruntung mendapat tempat secara cuma-cuma di rumah Daeng Raga. Bagaimanapun, ia hanya seorang honorer. Bila mesti menyewa hunian, tentulah gajinya yang waktu dan jumlahnya bak cuaca, tak akan mencukupi kebutuhannya tinggal di Barabaraya.

Relawan Sekolah Kolong terdiri dari anak-anak milenia. Dapat disebut begitu, karena mereka rerata kelahiran tahun 90-an ke atas. Tahun-tahun internet dan teknologi digital berkembang sangat pesat. Sebagian besar relawan masih mahasiswa. Tetapi para pelopornya, rerata sudah bekerja. Beragam profesi. Ada yang pegawai di instansi pemerintah, karyawan swasta, perawat, dokter, dan lain-lain.

Kehadiran mereka sudah dinanti-nanti anak-anak Barabaraya. Suasana belajar di kelas yang terbuat dari papan samping rumah Daeng Raga bakal lebih ramai dari biasanya. Seperti sebelum-sebelumnya  ketika para relawan terlibat dalam kelas. Relawan mengajar siang itu dipimpin langsung oleh Muliadi atau disapa Kak Ibe.

Hari itu beberapa siswa tidak dapat hadir karena terhalang sungai yang meluap. Beberapa murid di sekolah Barabaraya memang tinggal lebih jauh lagi di atas gunung. Berada di tengah-tengah hutan lindung di kawasan yang berbatasan dengan daerah Malino, Kabupaten Gowa.

Kalau bersekolah, mereka mesti menyeberangi salah satu cabang aliran sungai Maros yang besar. Sementara orang tua mereka tengah sibuk bercocok tanam hingga tak punya waktu menemani menyeberangi sungai. Beberapa murid juga meliburkan diri karena ikut keluarga yang mengisi paruh waktu sebagai buruh perkebunan sayur di Malino, Kabupaten Gowa.

Para relawan Sekolah Kolong mendesain sistem belajar belajar mereka lebih kreatif. Pendekatannya juga lebih santuy kata anak jaman now. Tujuannya agar rasa percaya diri anak-anak ini bisa terbangun. Disesuaikan dengan kondisi pendidikan anak-anak dan mental mereka ini yang jauh lebih tertutup dan pemalu dari anak-anak di perkotaan.

Para relawan  membangun hubungan secara emosional dengan anak-anak sekolah ini, sebagai guru sekaligus sebagai rekan bermain. Pendekatan ini cukup sukses, seperti terlihat pada ekspresi anak-anak didik tersebut saat  ini belajar di kelas. Mereka sangat akrab dengan para relawan. Dan tanpa ada rasa malu lagi bila ditunjuk untuk naik ke depan kelas membaca cerita dari buku.

Kelas biasanya diisi lebih dari satu relawan. Satu orang sebagai pengajar utama, dan lainnya berperan selaku kawan atau parner belajar siswa. Dengan begitu, anak-anak lebih percaya diri karena ditemani oleh seorang rekan relawan. Mereka bisa bertanya kapanpun pada teman belajarnya ketika menemukan sesuatu yang mereka tidak tahu.

Kak Ibe adalah pelopor Sekolah Kolong. Sampai kini, di sela kesibukannya di sebagai pegawai negeri salah satu instansi di makassar, ia masih meluangkan waktu mengajar di tempat tersebut. Sosok yang dikenal aktif di dunia kerelawanan itu, menceritakan awal keterlibatannya dalam kegiatan ini. Semuanya berawal 7 tahun silam.

“Saat itu kami membuat kegiatan sosial di kampung bagian atas dari Barabaraya ini. Di atas pemukiman lebih banyak pada dibanding di Barabaraya. Dan terdapat sekolah juga. Kondisinya saat itu juga masih miris. Tetapi masih lebih baik dari Barabaraya. Di atas, beberapa warga menyampaikan bahwa di Barabaraya ini terdapat kegiatan belajar mengajar yang jauh dari layak. Dilangsungkan dikolong rumah.”

“Setelah meninjau langsung, saya dan teman-teman tergerak untuk membantu. Salah satunya dengan membuat Sekolah Kolong project untuk membantu proses pendidikan di kolong rumah ini. Kami buka pendaftaran relawan, dan disambut antusias. Ada ratusan relawan yang terlibat, hingga sampai saat ini sebagian besar masih terus terlibat,”jelasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*