Editor 27 Januari 2021

Lebih jauh lagi, Ibe dan kawan-kawan mengidentifikasi masalah di Barabaraya. Rupanya, akses pendidikan hanya satu dari banyak masalah.

“Pada masalah ini, kami menggalang dana agar bisa membangun kelas yang lebih layak dari kolong rumah. Daeng Raga menghibahkan tanahnya. Kami berhasil  membangun dua ruangan di atas tanah tersebut”,ungkapnya.

“Dari sisi tenaga pengajar, kami sendiri jadi relawannya. Teman-teman mengajar pelajaran umum hingga pelajaran agama. Meski belum maksimal, tapi sudah lumayan membantu. Masalah lain juga ada. Akses kesehatan. Penerangan listrik, jalanan, dan lain-lain. Masalah kesehatan, mereka jauh dari fasilitas kesehatan. Biasanya, relawan yang melakukan pengecekan kesehatan.”

“Dilakukan oleh teman-teman yang memang berlatar medik. Listrik, alirannya baru masuk ke kampung ini sejak tahun 2016. Itu juga baru diperhatikan pemerintah  setelah kami mendorong pemberitaan tentang warga sakit yang ditandu ke jalan poros beberapa tahun lalu. Kami juga menemui langsung pihak PLN,” terangnya lebih lanjut.

Menurut Ibe, pada akhirnya niat awal mereka yang hanya sekadar jadi relawan pendidikan, berkembang menjadi kegiatan advokasi dan pendampingan. “Sampai saat ini, sejumlah masalah yang saya sebut itu, belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal jarak kampung ini tidak begitu jauh dari Kota Maros dan Makassar. Hanya kurang lebih satu jam dengan kendaraan roda dua untuk tiba di jalan poros luar,”ujarnya menambahkan penjelasan sebelumnya.

Sebelum para relawan mengisi kegiatan belajar mengajar di jelas,  biasanya pelajaran diisi oleh abdul halik. Ia mengajarkan seluruh mata pelajaran, dari pelajaran agama, sampai ilmu matematika. Meski sangat jauh dari perhatian dan sorotan mata publik, di sekolah Barabaraya tersebut,  ia berusaha menegakkan disiplin dalam mengajar. Dari cara berpakaian yang rapi, hingga cara mengajar yang dipenuhi aturan kedisiplinan.

Begitu pula bagi anak sekolah. Mereka tetap wajib berseragam. di hari senin,  juga mereka tetap upacara bendera. Ia merangkap sebagai pemimpin upacara dan pembina. Segalanya dikelola sendiri di sini, di samping tentu dibantu oleh para relawan.

Satu-satunya yang berbeda menurut Abdul Halik, yaitu libur sekolah. Di sekolahnya libur ia tetapkan pada hari Selasa, sementara hari Minggu anak-anak tetap masuk.  Selasa adalah hari pasar di pusat desa yang terletak di jalan utama, dan  biasanya anak-anak mengikuti orang tua mereka ke pasar melihat keramaian. “Saya biasa ditanya teman-teman guru di desa, kenapa anak-anak terlihat di pasar kalau hari Selasa? Apa tidak belajar? Saya berseloroh, Barabaraya itu kampung asing. Minggu mereka sekolah, hari liburnya berbeda, hehehe”, imbuh guru muda tersebut.

Abdul bermaksud memberi kesempatan bagi anak murid-muridnya untuk terapi retail. Melihat-lihat aktivitas pasar agar tak jenuh dengan kehidupan pelosok. Juga agar bisa bersosialisasi dengan masyarakat di luar kampung mereka. Dan ketika pulang, mereka membawa pengalaman baru untuk diceritakan di sekolah.(*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*