Editor 7 Desember 2020

Praduga Masalah Pelayanan Gizi Balita

            Penerapan physical distancing maupun kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi mobilitas penduduk, berdampak membatasi aksesibilitas pelayanan kesehatan. Hal ini dapat menimbulkan risiko gangguan kelangsungan pelayanan kesehatan termasuk pada balita, yang berpotensi meningkatkan kesakitan dan kematian. Sehingga perlu diambil langkah-langkah untuk menyeimbangkan kebutuhan penanganan Covid-19 dan tetap memastikan kelangsungan pelayanan kesehatan esensial pada balita tetap berjalan. (Kemenkes, 2020).        Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tentu membuat pelayanan surveilans gizi seperti Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu, Pelayanan Gizi Pada Kelompok Balita dengan Status Gizi Bermasalah (<-2 Standar Deviasi) dan juga kegiatan-kegiatan surveilans gizi lain yang bisa jadi terhambat.

Di kondisi tanpa pandemi saja bisa terlihat bahwa partisipasi ibu balita di posyandu belum maksimal. Dalam Hasil Pemantauan Status Gizi, Persentase Balita Ditimbang 4 kali atau Lebih dalam 6 Bulan Terakhir menunjukkan  tahun 2016 sebesar 72.4% dan tahun 2017 sebesar 78%. Posyandu sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat, dalam perkembangannya tidak hanya menjalankan pelayanan di bidang kesehatan dan keluarga berencana, akan tetapi diharapkan mampu menggalang partisipasi masyarakat dalam rangka upaya peningkatan kesejahteraannya.

Pos Pelayanan Terpadu atau disingkat Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan melalui prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat diharapkan sebagai wadah yang mampu memberikan pelayanan kesehatan dan sosial dasar masyarakat. Posyandu yang terintegrasi adalah kegiatan pelayanan sosial dasar keluarga dalam aspek pemantauan tumbuh kembang anak. Posyandu memang salah satu sarana yang difasilitasi pemerintah untuk pelayanan kesehatan berbasis partisipasi masyarakat sebagai salah satu sarana pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Manfaat Posyandu diantaranya pemantauan pertumbuhan balita, pemberian vitamin A, pemberian imunisasi, pemberian tablet Fe, pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), pemantauan ASI Eksklusif, dan lainnya.

Akan tetapi bersama kita pahami bahwa dengan kondisi pandemi tentu, pemanfaatan posyandu akan kurang maksimal. Dengan kurang maksimalnya pelayanan surveilans gizi ini ada praduga-praduga yang membesar ini memungkinkan untuk muncul terjadinya peningkatan masalah gizi.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*