Proyek Kereta Api menghipnotis para Investor
Sebuah pepatah mengatakan ‘ada gula ada semut”. Ada proyek pembangunan insfrastruktur, ada pula investor datang melakukan pengembangan.
Seperti hukum alam, itulah yang terjadi di Kabupaten Barru. Proyek Pembangunan Kereta Api Trans Sulawesi ini telah merangkul investor dari banyak bidang.
Ada investor perdagangan, ada investor kuliner, ada pula investor property.
Pertama, meningkatkan investasi dari luar Barru. Contohnya dapat disaksikan pada situasi di pasar Palanro.
Pasar ini hanya dibuka di hari-hari tertentu. Meski belum beroperasi secara full time menurut sumber informasi masyarakat setempat, los-los yang tersedia sekarang sudah full dimiliki oleh masyarakat lokal maupun pendatang.
Hal ini mengindikasikan, adanya ketertarikan investor yang ‘wait and see”.
Mereka melihat peluang perdagangan di pasar Palanro yang notabene sangat dekat dengan calon CBD Stasiun Kereta Api.
Jika stasiun kereta Api telah beroperasi, maka komoditi yang diperdagangkan dapat dengan mudah di bongkar di pasar dekat dengan Stasiun.
Hal ini mendorong para investor perdagangan untuk membeli lahan di pasar Palanro maupun di sekitar lokasi pasar.
Kedua, para investor di bidang kuliner juga melirik proyek prospektif infrastruktur kereta api ini.
Kabupaten Barru berpeluang menjadi daerah yang ramai oleh lalu lintas penduduk dan wisatawan.
Pegiat atua pengusaha kuliner cermat melihat prospek ini. Terlihat dari pertumbuhan rumah makan di sekitar jalur transportasi.
Banyaknya lahan-lahan kosong berupa rawa-rawa atau persawahan yang ditimbun, dijadikan proyek wisata kuliner.
Salah satu yang dikenal adalah Rumah Empangku di Desa Palanro Kecamatan Mallusetasi.
Rumah Makan Empangku, yang berdiri di tepi pantai pada tahun 2020 ini telah menyita banyak perhatian masyarakat.
Lahan yang dibebaskan lebih dari 1 hektar ini dijadikan rest area sekaligus tempat wisata kuiner yang penuh dengan obyek wisata laut.
Dalam waktu-waktu tertentu, tempat wisata ini dipenuhi oleh kendaraan pengunjung yang menikmati jamuan makan sekaligus pemandangan yang menakjubkan.
Sehingga obyek ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang melewati Kabupaten Barru.
Lahan yang dibebaskan di obyek kuliner ini tentu mempertimbangkan kehadiran jalur kereta api.
Ketiga, investor di bidang property paling mampu memeriahkan sektor perdagangan tanah.
Tanah rawa, tanah sawah, bahkan gunung yang dikeruk, adalah lahan potensial sebagai obyek jual-beli.
Pengembang dari berbagai daerah mulau bermunculan seiring dengan dilaksanakannya proyek pembangunan kereta api.
Begitu pula dengan user (pembeli property) juga mulai melirik untuk membeli lahan di Kabupaten Baru.
Pengembang atau developer membebaskan lahan untuk di jadikan proyek penjualan tanah kapling.
Pengembang berani menanggung biaya timbunan dan pondasi keliling untuk lahan yang dibebaskan, yang hendak diperjualbelikan.
Hal ini menyiratkan bahwa resiko yang tinggi dalam berinvestasi akan sebanding dengan banyaknya user yang akan memanfaatkan penjualan propertinya.
Sehingga pengembang berani menanggung beban investasi yang lebih banyak.
Melihat dari proyek-proyek lokal yang berjamuran di Kabupaten Barru, seperti perdagangan, kulineran, dan sektor property, seluruhnya membutuhkan lahan untuk kegiatannya.
Oleh karena itu, nilai tanah yang sebelumnya tidak terlalu tinggi menjadi cepat naik menyesuaikan jumlah permintaan dari para pengembang dan investor dilokasi tersebut.






