Editor 8 Desember 2020

 Data Trend Kenaikan Tanah 

Proyek Strategis Nasional  Kereta Api Trans Sulawesi telah banyak memberikan dampak bagi terjadinya permintaan dan penawaran tanah di wilayah Kabupaten Barru.

Lahan masyarakat yang sebelumnya tidak prospektif untuk diperdagangkan, kini telah berubah menjadi lahan-lahan bisnis yang menjanjikan.

Sebagai contoh di Desa Palanro Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru, tanah yang sebelumnya seharga Rp.5.000.000,- per are (1 are sama dengan 100 meter persegi), kini ditahun 2020 menjadi Rp.30.000.000,- per are.

Sebuah kenaikan yang signifikan di tempat yang jauh dari aksesbilitas yang baik. 

Begitu pula di daerah yang dekat dengan pelabuhan Garongkong, tanah yang sebelumnya (tahun 2016) rata-rata seharga Rp.500.000,- per meter persegi, sekarang di tahun 2020 ini ditawarkan dengan harga Rp.1.200.000,- per meter persegi.

Padahal tanah yang ditawarkan tersebut berbentuk rawa/persawahan yang masih butuh timbunan.

Berikut ini tersajikan data penjualan tanah di Kabupaten Barru, dimana telah diklasifikasikan menurut jenis tanah di wilayah setempat.

Ada tanah sawah, kebun, empang dan tanah matang. Tanah yang masih perlu pengolahan lebih lanjut seperti tanah sawah dan empang, tak ketinggalan turut meramaikan ‘bursa’ penjualan.

NoLokasiJenis TanahHarga Tahun 2015-2017Harga saat ini (2020)Trend kenaikan
1Jalan LatanringTanah Kebun5.000.000/ are30.000.000/are600 %
2Jalan LatanringTanah Sawah3.000.000/are7.000.000/are200%
3Jalan Andi MattalataTanah empang300.000/m700.000/m130%
4Jalan Poros Makassar-BarruTanah Matang500.000/m1.200.000/m140%

Apalagi setelah adanya proyek pembangunan kereta api, dimana jalur lintas kereta mengakses lahan berupa persawahan, kebun, hutan dan tanah-tanah yang relative jauh dari pemukiman penduduk. 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*