Data Trend Kenaikan Tanah
Proyek Strategis Nasional Kereta Api Trans Sulawesi telah banyak memberikan dampak bagi terjadinya permintaan dan penawaran tanah di wilayah Kabupaten Barru.
Lahan masyarakat yang sebelumnya tidak prospektif untuk diperdagangkan, kini telah berubah menjadi lahan-lahan bisnis yang menjanjikan.
Sebagai contoh di Desa Palanro Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru, tanah yang sebelumnya seharga Rp.5.000.000,- per are (1 are sama dengan 100 meter persegi), kini ditahun 2020 menjadi Rp.30.000.000,- per are.
Sebuah kenaikan yang signifikan di tempat yang jauh dari aksesbilitas yang baik.

Papan Penjualan Tanah di Sepanjang Jalur Trans Sulawesi di Barru
Begitu pula di daerah yang dekat dengan pelabuhan Garongkong, tanah yang sebelumnya (tahun 2016) rata-rata seharga Rp.500.000,- per meter persegi, sekarang di tahun 2020 ini ditawarkan dengan harga Rp.1.200.000,- per meter persegi.
Padahal tanah yang ditawarkan tersebut berbentuk rawa/persawahan yang masih butuh timbunan.
Berikut ini tersajikan data penjualan tanah di Kabupaten Barru, dimana telah diklasifikasikan menurut jenis tanah di wilayah setempat.
Ada tanah sawah, kebun, empang dan tanah matang. Tanah yang masih perlu pengolahan lebih lanjut seperti tanah sawah dan empang, tak ketinggalan turut meramaikan ‘bursa’ penjualan.
| No | Lokasi | Jenis Tanah | Harga Tahun 2015-2017 | Harga saat ini (2020) | Trend kenaikan |
| 1 | Jalan Latanring | Tanah Kebun | 5.000.000/ are | 30.000.000/are | 600 % |
| 2 | Jalan Latanring | Tanah Sawah | 3.000.000/are | 7.000.000/are | 200% |
| 3 | Jalan Andi Mattalata | Tanah empang | 300.000/m | 700.000/m | 130% |
| 4 | Jalan Poros Makassar-Barru | Tanah Matang | 500.000/m | 1.200.000/m | 140% |
Apalagi setelah adanya proyek pembangunan kereta api, dimana jalur lintas kereta mengakses lahan berupa persawahan, kebun, hutan dan tanah-tanah yang relative jauh dari pemukiman penduduk.





